Oleh: Asmar Hi. Daud
(Akademisi Unkhair)
Beberapa waktu terakhir, keluhan tentang layanan air bersih kembali ramai terdengar di Kota Ternate. Seorang warga bahkan menyampaikan keluhannya dengan nada satir.
Menurutnya, sejak pergantian pimpinan di perusahaan daerah air minum, gangguan distribusi air justru semakin sering terjadi.
Awalnya air hanya “swak“, kemudian berubah menjadi mati hidup, lalu hampir setiap waktu Magrib air menghilang dari keran. Tak lama kemudian, gangguan itu terasa semakin sering.
Pagi mati, siang mati, sore mati, malam mati. Yang membuat warga semakin kecewa, kondisi tersebut sering terjadi tanpa informasi yang jelas kapan air akan kembali mengalir.
Di tengah keresahan itu, muncul pula sindiran. “Tim seleksi bekerja berbulan-bulan, padahal yang dicari cuma orang untuk kerja kase mati aer saja,” demikian celetuk seorang warga sambil tertawa getir.
Tentu saja itu hanyalah ungkapan kekecewaan. Namun seperti banyak kritik yang lahir dari humor rakyat, terselip kegelisahan yang sesungguhnya, mengapa kebutuhan paling mendasar justru semakin sulit diperoleh?
……….
Kota Ternate adalah kota pulau yang unik. Di satu sisi ia tumbuh sebagai pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan pemerintahan di Maluku Utara. Namun di sisi lain, ia hidup di atas ruang ekologis yang sangat terbatas.
Luas daratan yang sempit, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, pembangunan permukiman yang meluas, dan tekanan terhadap kawasan resapan air perlahan sedang membawa kota ini pada satu ancaman yang sering luput dari perhatian, yakni krisis air bersih.
Belakangan ini masyarakat kembali mengeluhkan distribusi air yang sering mati tanpa kepastian.
Awalnya hanya beberapa jam, lalu berubah menjadi rutinitas harian. Pagi mati, siang mati, sore mati, malam mati. Yang lebih mengkhawatirkan, sering kali masyarakat tidak memperoleh informasi yang memadai kapan air akan kembali mengalir.
Keluhan itu mungkin terdengar sebagai masalah pelayanan biasa. Namun jika dilihat lebih dalam, sesungguhnya keluhan tersebut merupakan gejala dari persoalan ekologis yang jauh lebih besar.
Selama ini sistem penyediaan air bersih Kota Ternate sangat bergantung pada sumber daya air tanah. Berbagai sumur bor menjadi tulang punggung pasokan air bagi masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan sumber air permukaan seperti Danau Laguna di Kelurahan Ngade juga dilakukan dalam kapasitas yang relatif terbatas.
Masalahnya, sumber daya air yang menopang kehidupan kota ini tidak bertambah, sementara jumlah penduduk dan kebutuhan air terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sejumlah kajian bahkan telah lama memberikan peringatan serius. Hasil studi Balai Wilayah Sungai yang banyak dikutip dalam berbagai laporan menyebutkan bahwa cadangan air tanah Kota Ternate berpotensi mengalami tekanan serius dan diproyeksikan menghadapi krisis pada sekitar tahun 2030 apabila eksploitasi dan degradasi kawasan resapan terus berlangsung.
Peringatan itu seharusnya tidak dianggap berlebihan. Hampir 90 persen sumber air Kota Ternate masih bergantung pada air tanah, sementara kontribusi air permukaan masih sangat kecil.
Bahkan beberapa sumber alternatif memiliki keterbatasan kualitas maupun kapasitas sehingga belum dapat menjadi solusi utama.
Artinya, ketika air tanah mengalami penurunan debit atau intrusi air laut, maka kota ini akan menghadapi persoalan yang jauh lebih serius dibanding sekadar gangguan distribusi harian.
Sebagai pulau vulkanik kecil, Ternate sebenarnya memiliki sistem ekologis yang rapuh. Air hujan yang turun di lereng Gunung Gamalama menjadi sumber utama yang mengisi cadangan air tanah.
Namun ketika kawasan resapan terus menyempit akibat pembangunan perumahan, jalan, hotel, dan berbagai infrastruktur lainnya, kemampuan alam menyimpan air juga ikut menurun.
Dalam berbagai laporan lingkungan disebutkan bahwa penyusutan kawasan resapan dan maraknya penggunaan sumur bor menjadi faktor utama yang mempercepat tekanan terhadap cadangan air tanah Ternate.
Bahkan sejumlah wilayah mulai mengalami gejala intrusi air laut yang menyebabkan sumber air menjadi payau.
Ironisnya, di tengah keterbatasan ekologis tersebut, pembangunan kota masih terus bergerak tanpa diiringi perencanaan ketahanan air yang memadai.
Kita sibuk membangun kawasan baru, tetapi jarang bertanya apakah sumber airnya cukup.
Kita sibuk memperluas permukiman, tetapi lupa menjaga daerah resapan.
Kita sibuk mengejar pertumbuhan kota, tetapi belum serius menghitung daya dukung ekologis pulau kecil ini.
Padahal sejarah banyak kota pulau di dunia menunjukkan bahwa krisis air sering datang secara perlahan. Ia tidak langsung muncul sebagai bencana besar.
Krisis dimulai dari air yang sesekali mati, sumur yang mulai mengering, debit yang menurun, distribusi yang terganggu, lalu perlahan berubah menjadi krisis struktural.
Karena itu, persoalan air bersih di Ternate tidak boleh hanya dibebankan kepada PDAM atau Perumda Air Minum saja. Ini adalah persoalan tata ruang, konservasi lingkungan, pengendalian pembangunan, perlindungan kawasan resapan, hingga perubahan perilaku konsumsi air masyarakat.
Pemerintah Kota Ternate perlu menjadikan ketahanan air sebagai agenda strategis jangka panjang. Audit daya dukung air harus dilakukan secara berkala. Kawasan resapan di lereng Gamalama perlu dilindungi secara ketat.
Penggunaan sumur bor skala besar harus dikendalikan. Teknologi pemanenan air hujan perlu didorong hingga tingkat rumah tangga dan fasilitas publik.
Bahkan sejak sekarang Kita Ternate perlu mulai memikirkan diversifikasi sumber air, termasuk kemungkinan pengembangan teknologi desalinasi untuk masa depan.
Beberapa penelitian tentang kebutuhan air di Ternate juga telah merekomendasikan pencarian sumber air baku alternatif sebagai langkah antisipatif menghadapi peningkatan kebutuhan penduduk.
Yang paling penting, krisis air harus dilihat sebagai persoalan sosial-ekologis, bukan sekadar persoalan perpipaan.
Karena sesungguhnya krisis air tidak dimulai ketika keran berhenti mengalir.
Krisis air dimulai ketika sebuah kota pulau gagal menjaga sumber-sumber kehidupan yang menopang keberlanjutannya.
Dan jika tanda-tanda yang terlihat hari ini terus diabaikan, maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti Ternate akan menghadapi paradoks yang paling menyakitkan, yakni sebuah kota yang dikelilingi laut, tetapi kesulitan mendapatkan air untuk bertahan hidup.***




Tinggalkan Balasan