TPost — Ketika lahan semakin terbatas dan kebutuhan pangan terus berjalan, sebuah ember di pekarangan rumah ternyata bisa menjadi awal dari produksi pangan keluarga.
Hal itu diperkenalkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Khairun (Unkhair) kepada warga Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, melalui teknologi Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber).
Bukan sekadar memelihara ikan dalam wadah sederhana, program yang telah dilaksanakan sejak Agustus 2025 itu juga mengenalkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) kepada masyarakat.
Sebanyak 57 warga mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang melibatkan kelompok nelayan dan berbagai unsur masyarakat.
Mereka tidak hanya mendapat penjelasan mengenai Budikdamber, tetapi juga praktik memilih benih sehat, mengatur kepadatan tebar, memberikan pakan secara tepat, menjaga kualitas air hingga mencatat pertumbuhan ikan.
Tim pengabdian terdiri atas Fatma Muchdar, Suryani, Rovina Andriani, Juharni dan Ikbal Marus dari Program Studi Budidaya Perairan dan Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Khairun.
Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif. Warga tidak ditempatkan semata sebagai penerima program, tetapi didorong menjadi pelaku yang belajar, mempraktikkan dan melanjutkan budidaya secara mandiri.
Bukan Sekadar Memelihara Ikan
Bagi tim FPIK Universitas Khairun, Budikdamber bukan sekadar solusi memelihara ikan tanpa kolam.
Prinsip CBIB menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Warga diperkenalkan pada praktik budidaya yang memperhatikan kesehatan ikan, kualitas air, efisiensi penggunaan pakan, keamanan hasil produksi dan keberlanjutan lingkungan.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari sosialisasi, praktik langsung, pendampingan teknis hingga monitoring.
Model praktik langsung menjadi bagian penting. Warga dapat melihat sekaligus mencoba sendiri bagaimana wadah disiapkan, benih ditebar, ikan diberi pakan dan kualitas air dijaga.
Hasil monitoring yang dicatat dalam laporan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap pengelolaan budidaya.
Warga mulai memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak berhenti pada menebar benih dan memberikan pakan. Kepadatan ikan, kualitas air, kondisi kesehatan ikan, jumlah pakan dan pencatatan pertumbuhan ikut menentukan hasil akhir.
Dari Pekarangan ke Meja Makan
Salah satu gambaran hasil yang diperoleh dari pendampingan adalah satu unit Budikdamber berisi sekitar 50 ekor benih ikan nila dapat menghasilkan rata-rata 2,5 hingga 3 kilogram ikan dalam satu siklus budidaya.
Dalam skala rumah tangga, hasil tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Jika dilakukan secara konsisten dan dikembangkan, Budikdamber juga berpotensi menjadi aktivitas ekonomi berskala kecil.
Namun, nilai program ini tidak semata-mata dihitung dari jumlah kilogram ikan yang dipanen.
Lebih jauh, Budikdamber memperkenalkan gagasan bahwa rumah tangga dapat menjadi salah satu unit produksi pangan meski memiliki ruang yang terbatas.
Bagi kota kepulauan seperti Ternate, pendekatan tersebut menjadi relevan. Keterbatasan pekarangan dan ruang perkotaan membuat budidaya ikan dengan kolam konvensional tidak selalu mudah diterapkan. Dalam kondisi seperti itu, ember justru menjadi ruang produksi alternatif.
Satu Ember, Dua Hasil
Budikdamber juga membuka peluang integrasi antara ikan dan tanaman melalui sistem akuaponik sederhana.
Air dari wadah budidaya dapat dimanfaatkan untuk tanaman seperti kangkung dan sawi. Dengan pendekatan tersebut, satu ruang produksi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ikan, tetapi juga sayuran.
Konsep ini membuat sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih efisien. Air dan unsur hara dari kegiatan budidaya dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman, alih-alih langsung dibuang.
Dengan demikian, Budikdamber tidak hanya berbicara mengenai produksi pangan, tetapi juga pemanfaatan ruang dan sumber daya secara lebih efisien serta ramah lingkungan.
Perempuan dan Pemuda Ikut Bergerak
Program di Jambula juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, pemuda, pelajar hingga warga lainnya.
Bagi ibu rumah tangga, Budikdamber relatif mudah diterapkan karena dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal tanpa membutuhkan lahan khusus.
Interaksi selama pelatihan juga membuka peluang terbentuknya kegiatan produktif berbasis komunitas.
Dalam laporan kegiatan, muncul gagasan pembentukan kelompok kecil budidaya di tingkat RT yang dapat menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus mempermudah akses terhadap benih dan pakan.
Gagasan tersebut penting karena keberlanjutan budidaya tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga dukungan dan jejaring di tingkat masyarakat.
Tantangan Terbesar: Jangan Berhenti Setelah Pelatihan
Di balik kesederhanaannya, tantangan Budikdamber justru muncul setelah kegiatan pelatihan selesai.
Program pemberdayaan masyarakat kerap menghadapi persoalan yang sama: kegiatan berjalan ketika pendamping masih hadir, tetapi melemah setelah program berakhir.
Karena itu, keberhasilan Budikdamber di Jambula tidak cukup diukur dari terlaksananya sosialisasi, jumlah peserta atau banyaknya ember yang digunakan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah warga tetap melanjutkan budidaya pada siklus berikutnya, mampu memperbaiki kesalahan, mencatat biaya dan hasil produksi, serta mengembangkan kegiatan secara mandiri.
Dukungan pemerintah kelurahan, penyuluh perikanan, perguruan tinggi dan pihak terkait menjadi penting agar Budikdamber tidak berhenti sebagai program jangka pendek.
Laporan kegiatan juga mencatat tantangan berupa kesiapan awal masyarakat dalam mengadopsi teknologi berbasis CBIB serta perubahan cuaca yang dapat memengaruhi kualitas air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski teknologinya sederhana, Budikdamber tetap membutuhkan pengetahuan dan pendampingan teknis yang adaptif, terutama dalam menjaga kualitas air dan kesehatan ikan.
Pada akhirnya, program FPIK Universitas Khairun di Jambula memperlihatkan bahwa inovasi pangan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau lahan luas.
Di tengah ruang perkotaan yang terbatas, ketahanan pangan keluarga bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah ember, beberapa ekor ikan, pengetahuan yang tepat dan kemauan untuk terus memeliharanya.***

Tinggalkan Balasan