TPost — Ada yang berubah di kawasan Danau Tolire, Kota Ternate, Maluku Utara. Sejak awal 2023, Julang Irian jantan yang sebelumnya masih terlihat berpasangan dengan betina tak lagi terpantau dalam pengamatan berulang.

Sementara itu, sekitar enam individu betina masih terus terlihat beraktivitas di sekitar kawasan danau.

Dokumentasi terakhir Julang Irian jantan dan betina ditemukan pada 2 Januari 2023. Setelah itu, jejak visual individu jantan seolah terputus.

Lebih dari tiga tahun berlalu. Hingga September 2026, individu jantan belum kembali terdokumentasi dalam pengamatan yang dilakukan Wawan Suprianto Nadra, akademisi sekaligus fotografer satwa liar, bersama komunitas Pulo Tareba.

Yang masih terlihat adalah betina.
Mereka terbang, bertengger, berpindah tempat dan mencari makan di sekitar Danau Tolire.

Lantas, ke mana Julang Irian jantan?
Belum ada jawaban.
Bukan Berarti Mati

Wawan memilih berhati-hati membaca fenomena tersebut. Tidak munculnya individu jantan dalam pengamatan tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai kematian, perburuan, atau hilangnya satwa dari kawasan Danau Tolire.

“Dokumentasi terakhir yang kami dapatkan ketika Julang Irian masih terlihat berpasangan adalah 2 Januari 2023. Setelah itu, dalam pengamatan yang kami lakukan bersama teman-teman Pulo Tareba, kami tidak lagi melihat individu jantan. Yang masih terlihat adalah betina, sekitar enam individu,” kata Wawan.

Menurutnya, masih ada sejumlah kemungkinan yang harus dibuktikan melalui pengamatan lebih lanjut.

Bisa saja individu jantan berpindah wilayah jelajah. Bisa pula mengubah pola aktivitas, menggunakan habitat lain, atau berada di lokasi yang belum terjangkau pengamatan.

“Kami belum mempunyai bukti kuat untuk mengatakan penyebabnya. Apakah karena perburuan, faktor alam, atau mungkin individu jantannya berpindah wilayah. Kami tidak ingin membuat kesimpulan sebelum ada data yang lebih kuat,” ujarnya.

Karena itu, istilah yang digunakan bukan “hilang” atau “mati”, melainkan tidak lagi teramati.

Dari Berpasangan, Kini Hanya Betina yang Terlihat
Perubahan pola inilah yang kemudian menjadi perhatian. Pada 2 Januari 2023, jantan dan betina masih terdokumentasi bersama. Setelah itu, pengamatan berulang hanya kembali menemukan individu betina.

Padahal, keberadaan pasangan memiliki arti penting dalam siklus hidup rangkong.
Saat memasuki masa berkembang biak, betina dapat berada di dalam lubang pohon yang menjadi tempat bersarang. Dalam kondisi tersebut, jantan berperan mencari makanan dan memasoknya kepada betina melalui celah sarang.

Ilustrasi: Burung Julang Irian yang selalu terbang berpasangan.(Dokumentasi pribadi: Wawan Suprianto Nadra)

Namun, tidak ditemukannya jantan di Danau Tolire tidak otomatis berarti enam betina tersebut tidak memiliki pasangan.
Individu jantan bisa saja berada di luar wilayah pengamatan.

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab melalui pemantauan yang lebih luas dan konsisten.

Tiga Tahun Delapan Bulan Tanpa Jejak Visual Jantan
Dari 2 Januari 2023 hingga September 2026, sekitar tiga tahun delapan bulan telah berlalu.

Dalam rentang waktu tersebut, tidak ada lagi dokumentasi individu jantan berdasarkan rangkaian pengamatan Wawan dan komunitas Pulo Tareba.

Durasi ini tentu membuat fenomena tersebut layak mendapat perhatian.
Sebab, satu kali tidak menemukan seekor burung belum bisa menjadi dasar kesimpulan.

Tetapi ketika pengamatan dilakukan berulang dan pola yang sama terus ditemukan dalam kurun bertahun-tahun, catatan tersebut dapat menjadi sinyal awal untuk ditelusuri lebih serius.

Wawan melihat fotografi satwa liar juga dapat menjadi bagian dari upaya pemantauan.

“Foto bagi kami bukan hanya dokumentasi visual. Kalau dilakukan terus-menerus dan disertai catatan waktu serta lokasi, foto bisa menjadi bagian dari catatan keberadaan satwa. Dari situ kita bisa melihat apakah ada perubahan dari tahun ke tahun,” katanya.

Perburuan Masih Kemungkinan, Tapi Belum Terbukti
Absennya individu jantan juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan tekanan terhadap populasi.
Salah satunya perburuan.

Namun, sampai saat ini belum ada bukti yang dapat memastikan bahwa Julang Irian jantan tersebut menjadi korban perburuan.

Begitu pula kemungkinan lain, seperti kematian karena faktor alam, perpindahan wilayah jelajah, perubahan sumber pakan, perubahan habitat, hingga gangguan terhadap kawasan.

Semua masih berupa kemungkinan.
Untuk membuktikan perburuan, diperlukan bukti lapangan yang dapat diverifikasi. Jika perubahan habitat dicurigai berpengaruh, kondisi vegetasi, ketersediaan pakan, serta pohon yang berpotensi menjadi tempat bersarang perlu diperiksa.

Jika burung ternyata berpindah wilayah, survei di kawasan sekitar Danau Tolire menjadi penting untuk mengetahui apakah individu jantan masih terdeteksi di tempat lain.

Dengan kata lain, misteri ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan asumsi.

Enam Betina Masih Menjadi Penanda
Di tengah tanda tanya tersebut, keberadaan sekitar enam individu betina menjadi catatan penting.

Mereka masih menggunakan kawasan Danau Tolire untuk berbagai aktivitas.
Terbang.
Bertengger.
Berpindah tempat.
Mencari makan.
Artinya, kawasan tersebut masih dimanfaatkan Julang Irian.

Tetapi keberadaan betina sekaligus absennya dokumentasi jantan selama lebih dari tiga tahun menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi populasi lokal satwa tersebut.

Apakah jantan berada di kawasan lain?
Apakah wilayah jelajahnya berubah?
Apakah terjadi kematian?
Atau ada tekanan tertentu yang belum teridentifikasi?
Belum ada data yang cukup untuk menjawabnya.

Jangan Tunggu Sampai Satwa Benar-Benar Hilang
Fenomena Julang Irian di Danau Tolire menunjukkan pentingnya pemantauan satwa secara berkelanjutan.

Pengamatan populasi secara berkala, identifikasi individu melalui foto, pencatatan lokasi dan waktu kemunculan, pemantauan sumber pakan, pemeriksaan pohon yang berpotensi menjadi sarang, serta survei kawasan sekitar dapat menjadi langkah untuk mengurai misteri tersebut.

Dokumentasi terakhir Julang Irian Jantan dan Betina (Dokumentasi: Komunitas Pulo Tareba)

Perubahan ekosistem tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sederhana: seekor burung yang tidak lagi terlihat.
Kemudian pasangan yang tak lagi muncul bersama.
Lalu sebuah pola yang terus berulang.
Untuk Julang Irian di Danau Tolire, catatan terakhirnya masih jelas.

2 Januari 2023: jantan dan betina masih terdokumentasi berpasangan.
September 2026: sekitar enam betina masih terpantau, tetapi individu jantan belum kembali terlihat.
Ke mana Julang Irian jantan pergi?
Belum ada yang tahu.

Dan justru karena belum ada jawabannya, jejak itu perlu terus dicari sebelum pertanyaan tentang satu individu berubah menjadi pertanyaan tentang nasib populasi.***

TernatePost.id
Editor