Dokumentasi ikan karang, data ekologis, dan ruang baru untuk transparansi lingkungan

Oleh: Asmar Hi. Daud
(Akademisi Unkhair)

Beberapa hari lalu saya membaca berita mengenai peluncuran buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat.

Buku tersebut diterbitkan melalui kolaborasi Harita Nickel dengan Penerbit Buku Kompas dan diluncurkan di Kompas Institute, Jakarta, 8 September 2026.

Saya kemudian mencari beberapa pemberitaan lain mengenai buku tersebut. Ketertarikan saya sederhana. Pulau Obi bukan ruang geografis yang asing bagi saya.

Sebagai akademisi kelautan yang sedang menaruh perhatian pada perubahan sosial-ekologis wilayah pesisir di tengah ekspansi industri ekstraktif, setiap data baru mengenai laut Obi tentu menarik untuk dibaca.

Deskripsi resmi menyebutkan bahwa buku itu menghadirkan hasil pengamatan dan dokumentasi Tim Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel terhadap berbagai spesies ikan karang yang hidup di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Sejumlah pemberitaan juga menyebut dokumentasi tersebut berasal dari pemantauan rutin dan kegiatan scientific diving.

Karena itu, saya mengirim pesan WhatsApp kepada salah seorang manajemen Harita.

Buku ini layak dibedah, Pak.”

Jawabannya menarik:
Siap pak Asmar, sebuah dokumentasi utk sharing pengetahuan dan informasi yg kami lihat, saya mendorong anak2 muda tim utk terus berinovasi dan kreasi 🙏🙏”

Saya membaca jawaban itu secara positif.

Kalimat tersebut justru memberikan satu batas yang menurut saya penting, yakni buku ini adalah dokumentasi untuk berbagi pengetahuan dan informasi tentang apa yang mereka lihat.

Di sinilah pembicaraan mengenai buku itu sebaiknya dimulai.

Dokumentasi yang Patut Diapresiasi
Pertama-tama, penerbitan buku mengenai ikan karang Pulau Obi patut diapresiasi. Tidak semua hasil monitoring perusahaan diubah menjadi pengetahuan yang dapat dibaca masyarakat.

Lebih penting lagi, Pulau Obi memiliki kekayaan ekosistem laut yang belum seluruhnya terdokumentasi dengan baik.

Ketika foto, identifikasi spesies, habitat dan catatan lapangan dikompilasi menjadi buku, ada jejak pengetahuan yang tersimpan untuk generasi berikutnya.

Media melaporkan bahwa penerbitan buku tersebut memang dimaksudkan untuk mengembangkan hasil pemantauan keanekaragaman hayati menjadi sumber informasi dan edukasi yang dapat dijangkau masyarakat, akademisi dan praktisi lingkungan.

Saya juga tertarik pada satu hal lainnya bahwa buku ini dikerjakan oleh tim perusahaan sendiri.

Artinya, di dalam perusahaan pertambangan ternyata tumbuh kapasitas anak-anak muda yang mengamati laut, menyelam, memotret, mengidentifikasi ikan dan mendokumentasikan ekosistem.

Itu adalah modal yang baik.
Tetapi apresiasi terhadap dokumentasi tidak berarti kita berhenti bertanya.
Justru sebuah karya pengetahuan menjadi lebih berharga ketika bersedia dibaca, diperiksa dan didiskusikan.

Dokumentasi Bukan Sertifikat Kesehatan Laut
Di sinilah saya kira pembedaan akademik perlu dilakukan. Menemukan ikan karang yang beragam di suatu lokasi merupakan informasi ekologis penting.

Namun keberadaan atau bahkan tingginya keragaman ikan pada lokasi tertentu tidak dengan sendirinya dapat dijadikan kesimpulan bahwa keseluruhan ekosistem pesisir berada dalam kondisi sehat atau tidak mengalami tekanan.

Ekologi terumbu karang jauh lebih kompleks daripada daftar spesies itu sendiri.

Program pemantauan terumbu karang modern tidak hanya melihat jenis ikan. NOAA, misalnya, menggunakan kelompok indikator yang mencakup komunitas bentik, tutupan karang, demografi karang, kelimpahan dan ukuran ikan, biomassa, serta parameter lingkungan.

Pendekatan seperti ini diperlukan karena kesehatan ekosistem tidak dapat direpresentasikan secara memadai oleh satu indikator saja.

Literatur ilmiah juga mengingatkan hal yang sama. Kajian mengenai teknologi dan indikator pemantauan terumbu karang menunjukkan bahwa bahkan tutupan karang keras sebagai salah satu indikator yang paling sering digunakan tidak cukup sendirian untuk menjelaskan seluruh dimensi kesehatan ekosistem.

Keanekaragaman, struktur komunitas, fungsi ekologi, tekanan manusia dan kemampuan pemulihan perlu dibaca bersama.

Studi terbaru mengenai ikan sebagai indikator kondisi ekosistem terumbu juga menunjukkan hubungan yang kompleks, yaitu kelompok ikan tertentu merespons kondisi bentik, sementara kelompok lainnya sangat dipengaruhi tekanan manusia.

Artinya, data ikan sangat berharga, tetapi interpretasinya membutuhkan konteks ekologis yang lebih luas.

Maka pertanyaan terhadap buku Harita bukanlah tentang apakah foto-foto ikan itu benar?

Saya tidak punya alasan untuk mengatakan tidak.

Pertanyaan akademiknya jauh lebih menarik adalah ikan itu ditemukan di mana, kapan, pada kedalaman berapa, dengan metode apa, berapa luas area pengamatan, dan bagaimana kondisi lokasi yang sama dari tahun ke tahun?

Dari “Apa yang Kami Lihat” menuju “Bagaimana Kami Mengukurnya”
Ucapan manajemen Harita tentang “informasi yang kami lihat” justru memberi kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Dalam ilmu lingkungan, apa yang terlihat adalah awal observasi. Sesudahnya datang pertanyaan tentang cara mengukur.

Misalnya, berapa titik penyelaman yang menjadi sumber dokumentasi buku? Bagaimana titik-titik itu dipilih? Apakah lokasi ditentukan secara acak, sistematis, atau berdasarkan titik monitoring perusahaan? Apakah tersedia titik pembanding? Berapa kedalamannya? Pada musim apa survei dilakukan? Berapa kali pengulangan?

Lalu, apakah data ikan hanya berupa presence–absence, atau terdapat kelimpahan, ukuran individu, struktur trofik dan biomassa?

Bagaimana dengan persentase tutupan karang hidup, karang mati, patahan karang, pasir, alga, penyakit dan pemutihan?
Bagaimana pula kualitas perairannya; kekeruhan, TSS, oksigen terlarut, nutrien, logam dan parameter lainnya?

Pertanyaan semacam itu bukan bentuk kecurigaan terhadap perusahaan. Itulah cara ilmu pengetahuan bekerja.

Bahkan Indonesia telah memiliki kerangka baku mutu air laut dalam PP Nomor 22 Tahun 2021. Dengan demikian, membaca keadaan laut secara komprehensif seharusnya memungkinkan data biodiversitas berdialog dengan data kualitas lingkungan.

Buku Ini Justru Bisa Menjadi Baseline Penting
Karena itu saya melihat buku ini bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan dengan kritik lingkungan terhadap industri pertambangan.
Sebaliknya, ia berpotensi menjadi baseline yang penting.

Bayangkan jika data yang menjadi dasar buku tersebut tersimpan dengan baik dan pemantauannya dilanjutkan selama sepuluh atau dua puluh tahun.
Kita akan mempunyai rekaman tentang perubahan komunitas ikan karang di pesisir barat Obi. Spesies mana yang bertahan, bertambah atau berkurang; bagaimana perubahan biomassa; bagaimana kondisi karang; bagaimana kualitas perairan; dan bagaimana semua itu berhubungan dengan perubahan penggunaan ruang di daratan maupun laut.

Di situlah dokumentasi berubah menjadi ilmu pengetahuan longitudinal.

Pedoman pemantauan terumbu karang yang dikembangkan Australian Institute of Marine Science dan Global Coral Reef Monitoring Network sejak lama menekankan pentingnya metode standar agar kondisi suatu terumbu dapat dibandingkan antarwaktu maupun antarlokasi.

Maka nilai terbesar buku Harita mungkin belum terletak pada apa yang sudah dicetak, tetapi pada data ekologis di belakang buku tersebut.

Mari Buka Ruang Bedah Buku
Karena itulah saya mengatakan kepada manajemen Harita: “Buku ini layak dibedah.”

Kata dibedah jangan diterjemahkan sebagai mencari kesalahan.

Bedah buku adalah tradisi akademik. Kita membaca apa yang ditulis, menanyakan metodologi, melihat kekuatan data, mengidentifikasi keterbatasan, lalu membangun pengetahuan baru.

Saya bahkan membayangkan forum yang mempertemukan Tim Environmental Marine Harita, penulis buku, Penerbit Buku Kompas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, peneliti independen dan masyarakat pesisir Obi.

Perusahaan menjelaskan bagaimana data diperoleh.
Akademisi menguji pendekatannya.
Nelayan menjelaskan apa yang mereka lihat dan alami di ruang laut yang sama.
Pemerintah membawa data monitoring kualitas lingkungan.
Kemudian semuanya diletakkan di meja yang sama.

Itulah bentuk transparansi ekologis yang sesungguhnya.

Tidak perlu tergesa-gesa menyebut buku tersebut sebagai bukti keberhasilan pengelolaan lingkungan.

Tetapi juga tidak fair jika sebuah dokumentasi ilmiah perusahaan serta-merta diberi cap sebagai greenwashing sebelum metodologi dan datanya diperiksa.

Ilmu pengetahuan membutuhkan posisi yang lebih tenang. Mengajak kita untuk meLihat bukti, memeriksa metodologinya, membandingkan data, kemudian menarik kesimpulan.

Laut Obi Tidak Boleh Hanya Diceritakan dari Satu Sisi
Ada pelajaran lebih besar dari peluncuran buku ini. Laut Obi adalah ruang hidup yang menghasilkan banyak cerita.

Perusahaan melihatnya melalui monitoring lingkungan.

Nelayan melihatnya melalui hasil tangkapan, lokasi tangkapan, arus dan musim.

Masyarakat pesisir melihatnya sebagai ruang kehidupan.

Pemerintah melihatnya sebagai wilayah administrasi dan pembangunan.

Dan, akademisi melihatnya sebagai sistem sosial-ekologis yang kompleks.

Tidak satu pun seharusnya memonopoli kebenaran.

Karena itu masa depan pengelolaan lingkungan Obi tidak cukup dibangun melalui pertarungan narasi tentang apakah lautnya “masih indah” atau “sudah rusak”.

Pertanyaan yang jauh lebih produktif adalah, apa yang dikatakan data?

Jika Harita telah memulai dengan mendokumentasikan ikan karang, saya berharap langkah berikutnya lebih maju, yakni membuka metodologi, memperkuat monitoring jangka panjang, melibatkan lembaga ilmiah independen, dan sejauh memungkinkan membuat sebagian data ekologis dapat diakses publik.

Dengan begitu, buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi tidak berhenti menjadi buku meja yang indah. Ia bisa menjadi awal sebuah tradisi baru bahwa industri yang tidak hanya menghasilkan mineral dan dokumentasi, tetapi juga meninggalkan data yang dapat diuji, dibandingkan dan diwariskan sebagai pengetahuan publik.

Dan mungkin, dari sanalah kalimat sederhana manajemen Harita tentang “sharing pengetahuan dan informasi yang kami lihat” memperoleh makna yang jauh lebih besar.

Karena itu bagi Pulau Obi, yang diperlukan ke depan bukan hanya memperlihatkan kepada publik apa yang indah di bawah laut.

Kita juga perlu mengetahui, secara terbuka dan terus-menerus, apa yang sedang berubah di dalamnya.***