TPost – Pernyataan Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, yang menyebut Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, sebagai “tante cantik yang siap menerima kunjungan para lelaki” memicu reaksi dari kalangan akademisi.

Kelakar itu disampaikan Sahroni disela-sela kunjungan Komisi III DPR RI ke Ternate, Maluku Utara dan bertemu Gubernur juga sejumlah pejabat Forkopimda di Hotel Bela Ternate pada Kamis (23/7/2026).

Wahyuni Bailussy, akademisi komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate, memberikan catatan kritis terhadap gaya komunikasi sang legislator ini.

Wahyuni menilai bahwa meskipun pernyataan itu mungkin hanya sebuah kelakar untuk mencairkan suasana dan strategi memecah ketegangan, seorang pejabat publik seharusnya memiliki batasan yang jelas dalam berkomunikasi.

Terlebih lagi, pernyataan tersebut dilontarkan di hadapan wartawan yang secara otomatis akan menjadikannya konsumsi publik luas.

Kritik terhadap Penonjolan Fisik
Dalam pandangannya, Wahyuni menyoroti bagaimana komunikasi publik tersebut justru menonjolkan aspek fisik daripada kapasitas kepemimpinan.

Penggunaan label “tante cantik” dan frasa “siap menerima kunjungan lelaki” dinilai tidak tepat sasaran bagi seorang kepala daerah.

“Daripada label sebagai gubernur misal gubernur ‘hebat, luar biasa, dan lain-lain’, hal ini dapat dinilai kurang profesional dalam konteks komunikasi publik,” ujar Wahyuni.

Ia juga menambahkan bahwa pernyataan semacam itu berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi Sherly selaku subjek pembicaraan.

Pelajaran bagi Pejabat Publik
Kejadian ini diharapkan menjadi pembelajaran penting bagi para pejabat negara agar lebih berhati-hati dalam memilih diksi saat berbicara di ruang publik.

Etika komunikasi verbal harus tetap dijaga agar tidak mengaburkan substansi profesionalisme jabatan.

Namun di sisi lain, Wahyuni juga menangkap adanya pesan nonverbal yang positif di balik interaksi tersebut.

Secara keseluruhan, keakraban yang ditampilkan menunjukkan adanya kesan sinergi dan solidaritas antarlembaga, mulai dari DPR RI, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kepolisian, hingga Kejaksaan Tinggi.

Gaya komunikasi yang terbuka, penuh humor, dan kesan “bestie” tersebut memperlihatkan adanya komitmen bersama demi kemajuan daerah dan negara, meski tetap menyisakan catatan penting terkait pemilihan kata yang lebih etis.

TernatePost.id
Editor