TPost – Suasana khidmat menyelimuti Gedung Serbaguna Lingkungan Tiga, Kelurahan Topo, Kecamatan Tidore Kepulauan, pada Sabtu (18/4/2026) malam.
Lantunan zikir yang menggema tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah pernyataan kebudayaan yang mempertemukan ruang batin antara agama dan tradisi dalam perhelatan Dabus Akbar atau Ratib Taji Besi.
Acara yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Membangun Peradaban Umat” ini merupakan gelaran kelima yang digagas oleh Majelis Zikir Al-Awwaliyah sejak tahun 2021.
Lebih dari sekadar atraksi fisik, Dabus Akbar kali ini menjadi simbol kuatnya silaturahmi antar-majelis zikir se-Kota Tidore Kepulauan.
Agama sebagai Energi Sosial
Hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi panitia dan jamaah dalam menjaga tradisi ini.
Dalam sambutannya yang reflektif, ia menekankan bahwa agama di masa kini bukan lagi sekadar identitas formal, melainkan telah bertransformasi menjadi energi sosial yang menghidupkan masyarakat.
Menurutnya, tradisi Dabus merupakan warisan yang terus beradaptasi sejak era 1980-an hingga kini, memperkuat relasi antara nilai spiritual dan budaya lokal Maluku Kie Raha.
“Kekuatan spiritual inilah yang menjaga negeri kita tetap berada dalam cita-cita baldatun wa rabbun ghafur—sebuah negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan,” ungkapnya.
Semangat persatuan sangat terasa dengan hadirnya berbagai kelompok zikir dari berbagai penjuru, mulai dari Soa Sio, Gurabunga, Dokiri, Tuguiha, Soadara, Jaya, hingga Tomagoba.
Mereka melebur dalam satu irama zikir yang dipimpin oleh Joguru Sarjono Haerudin bersama para imam lainnya.
Lurah Topo, Ade Bahtiar, menegaskan bahwa kehadiran para pejabat daerah, termasuk perwakilan dari Pemerintah Kota Tidore, menunjukkan dukungan nyata negara terhadap ruang-ruang spiritual warganya.
Namun, ia mengingatkan bahwa esensi utama kegiatan ini adalah penegasan bahwa fondasi masyarakat yang kokoh terletak pada kebersamaan.
Senada dengan hal tersebut, Asisten I Setda Kota Tidore, Rudy Ipaenin, yang mewakili Wali Kota Tidore, menilai bahwa kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta secara otomatis akan mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.
Di tengah dunia yang kian dinamis dan sering kali terfragmentasi, peristiwa di Topo malam itu memberikan pesan penting: bahwa persatuan sejati dapat lahir dari zikir yang khusyuk dan tradisi yang dirawat dengan hati.
Dabus Akbar bukan sekadar pertunjukan, melainkan manifestasi keteguhan batin sebuah masyarakat yang memilih untuk tetap bersatu di bawah payung iman dan budaya.


Tinggalkan Balasan