TPost — Di tengah keriuhan Ballroom Hotel Sutanraja, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, seorang pria tampak cekatan melayani pengunjung yang singgah di stand-nya.
Ia adalah Iin Samiadji, seorang pegiat lingkungan dari komunitas Kaum Muda Pencinta Alam (KMPA) Tunas Hijau, Air Madidi.
Namun, Iin tidak sedang membagikan brosur atau sekadar berorasi; ia membawa pesan lingkungannya melalui guratan seni yang unik.
Berjejer di atas meja dan di sekitar area stand, puluhan lukisan serta aksesoris gantungan kunci menarik perhatian mata.
Jika dilihat sekilas, lukisan-lukisan bertema tokoh dunia, budaya, hingga satwa endemik Sulawesi itu tampak seperti karya seni biasa.
Namun, siapa sangka bahwa seluruh karya tersebut lahir dari limbah plastik kemasan makanan ringan dan minuman.
Seni Sebagai Pengeras Suara Lingkungan
Bagi Iin, plastik bukan sekadar sampah, melainkan medium ekspresi.
“Kita ingin bersuara tentang lingkungan tapi lewat seni. Jadi semua ini dibikin dari sampah,” ujarnya saat ditemui dalam perhelatan Green Press Community (GPC) 2026, Sabtu (7/2/2026).
Kecintaannya pada alam dan satwa mendorongnya untuk menciptakan karya yang menonjolkan kekayaan fauna lokal, seperti burung Rangkong.

Baginya, plastik kemasan memberikan keuntungan tersendiri karena mewakili banyak warna, sehingga ia tidak menemui kesulitan berarti dalam menyusun komposisi warna pada lukisannya.
Perjalanan kreatif ini dimulai Iin sejak tahun 2020, tepat saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia.
Meski kini ia sering diundang ke berbagai acara, Iin mengakui bahwa apresiasi masyarakat terhadap seni dari sampah plastik masih tergolong minim. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya.
Kampanye di Balik Harga dan Estetika
Lukisan-lukisan karya Iin dibandrol dengan harga mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta per karya pada acara-acara besar.
Baginya, nilai tersebut bukan sekadar angka, melainkan bagian dari kampanye agar masyarakat lebih peduli lingkungan atau mulai melakukan “diet sampah”.
Ada keprihatinan mendalam yang dirasakan Iin sebagai seniman sekaligus pencinta alam.
Ia menyoroti kontradiksi antara imbauan pemerintah untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan kenyataan bahwa produksi sampah plastik terus meningkat di masyarakat.
“Harapan kita ya, semoga ke depan kebijakan dan tindakan pemerintah dan masyarakat berjalan beriringan,” ungkapnya, menekankan pentingnya kolaborasi bersama dalam mengatasi persoalan lingkungan.
Belajar dari Kerusakan melalui GPC 2026
Kehadiran Iin di GPC 2026 yang diinisiasi oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menjadi sangat relevan dengan tema yang diusung, yakni “Jurnalisme Melindungi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil”.
Sebagai bagian dari tuan rumah, ia mengapresiasi ajang ini sebagai ruang bagi komunitas untuk saling bertukar informasi penting.

Melalui setiap kepingan plastik yang ia tempel di kanvasnya, Iin berharap daerah-daerah yang belum terdampak kerusakan lingkungan bisa memetik pelajaran dari daerah yang sudah mengalami kerusakan.
Baginya, berbagi informasi melalui acara seperti GPC adalah langkah krusial untuk menjaga masa depan bumi.





Tinggalkan Balasan