TPost — Dua ekor burung Gosong Kelam (Megapodius freycinet) berjalan berdampingan mencari makan di sekitar basecamp Pulo Tareba. Satwa endemik Kota Ternate, Maluku Utara, itu menjadi pemandangan unik di mata pengunjung wisata alam yang terletak di Takome, Kota Ternate.

Disebut unik karena biasanya Gosong Kelam sangat sensitif dan liar di habitatnya ketika bertemu manusia, tapi fakta terbalik di Pulo Tareba, burung ini malah jinak layaknya peliharaan.

Keberadaan Gosong Kelam dan banyak lagi jenis burung paruh bengkok, juga mamalia Kuskus Mata Biru (Phalanger matabiru) di Pulo Tareba, nyaris tinggal kenangan. Terutama Kuskus Mata Biru, mamalia endemik yang hanya dapat dijumpai di Pulau Ternate dan Tidore.

Dahulu sebelum menjadi wisata minat khusus, area hutan yang terletak di sekitar danau Tolire Besar itu marak perburuan liar. Tidak hanya oleh pemburu dari luar, tetapi ada juga warga setempat.

Satu di antara pemburu satwa di Takome yang telah insaf adalah Junaidi Abas (33 tahun). Junet, sapaan akrabnya, sudah berburu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia berburu berbagai jenis burung dan kuskus hanya untuk bersenang-senang.

Kepada ternatepost.id saat diwawancarai, 29 November 2025, Junet menceritakan bahwa dirinya bersama anak-anak seumurannya dulu, hampir setiap hari berburu di hutan dengan katapel. Begitu remaja, mereka mulai meng-upgrade senjatanya ke senapan angin.

“Apalagi kalau musim migrasi burung Kirukiru itu migrasi dari Australia, musim angin dia lagi ramai. Pas lagi trend bets (senapan angin) semua beli bets, tembak burung Kakatua, burung Taong (Rangkong), pokoknya apa saja torang (kami) tembak semua, kuskus itu torang tembak sampai dengan karung-karung,” ungkap Junet.

Hasil buruan kala itu, kata Junet, tidak diperjual-belikan melainkan dibarter dengan minuman atau senapan angin dari orang-orang etnis Cina. Sebagiannya yang hidup dipelihara, ada lagi yang dikonsumsi seperti burung Gosong Kelam dan burung Rangkong.

Di hutan terjadi perburuan liar, di pesisir Takome, warga begitu masif menambang pasir. Dua aktivitas terlarang itu membuat warga terutama kalangan pemuda mulai tersadar akan dampak buruk dari yang telah mereka perbuat. Abrasi meluas hingga mengancam rumah-rumah di pesisir.

Kesadaran itu makin terpacu, saat ramai-ramainya pengembangan wisata baru di Ternate, sekitar tahun 2008-2010. Junet mengatakan, pemuda di kelurahannya mulai ‘memutar otak’, membahas potensi wisata alam apa yang bisa mereka kembangkan.

Dari hasil pembahasan panjang bersama pemerintah kelurahan, tercetuslah rencana mengembangkan wisata pantai dan danau Tolire Kecil, menyusul wisata Tolire Besar yang lebih dulu ada. Objek wisata baru di kawasan pantai itu menjadi nilai tawar, supaya warga menyudahi aktivitas penambangan pasir pantai.

Berjalan waktu, meski penambangan pasir pantai tidak lagi dilakukan, perburuan satwa di hutan masih terus berlanjut. Hingga di tahun 2019, Pemerintah Kelurahan Takome menawarkan kepada para pemuda untuk menyiapkan program pengembangan wisata, karena akan didukung dana kelurahan (DK) Takome.

Tawaran pemerintah kelurahan disambut antusias kalangan pemuda. Mereka mulai melakukan survei potensi wisata apalagi yang dimiliki Takome selain pantai dan dua danau Tolire.

Torang lihat di era tahun 2018-2019 itu persaingan pariwisata sudah mulai gencar. Ada yang di Ngade dengan fliying fox-nya, berkembanglah. Jadi torang berfikir, ternyata potensi torang di sini bukan hanya danau, bukan hanya pantai, tetapi ada pariwisata yang kemudian di Kota Ternate ini belum ada sama sekali, yaitu pariwisata hutan,” jelasnya.

Begitu terbesit ide pariwisata hutan, masih di tahun 2019, para pemuda bersama pemerintah kelurahan kembali melakukan survei lokasi di hutan yang cocok dengan konsep tersebut. Survei lokasi itu membuat para pemuda dan lurah sampai harus berkemah di tengah hutan.

Hasilnya, pemuda bersepakat dan mengusulkan satu spot wisata baru yakni hutan kawasan Pulo Tareba di tepi danau Tolire Besar. Menurut Junet, tempat itu dipilih karena memiliki panorama alam yang indah, dengan view danau dan juga cocok dijadikan camping area.

“Tetapi torang belum berfikir bahwa ini akan berkembang ke konservasi untuk masalah flora-fauna, sehingga ada beberapa pohon yang torang datang tebang, tanpa torang sadar ada habitatnya burung di pohon tersebut. Bahkan saat itu torang masih ganggu lagi aktivitas kuskus,” tuturnya.

Basecamp Komunitas Pulo Tareba.(Foto: TPost)

Beruntung, digarapnya wisata Pulo Tareba membuat komunitas pencinta alam tertarik berkunjung dan memberikan masukan-saran kepada pemuda Takome.

Salah satunya yakni abang Jab. Dia selalu memberikan penyadaran, agar wisata yang digagas kalangan pemuda tidak sampai merusak alam, seperti mematahkan dahan atau menebang pohon.

Pemuda Takome yang mengelola Pulo Tareba diajak untuk memanfaatkan keberadaan flora dan fauna di kawasan hutan tersebut, sebagai salah satu daya tarik wisata selain keindahan panorama alamnya.

“Mulai dari situ saya berfikir bahwa ternyata torang punya aktivitas yang beberapa tahun kemarin itu sangat salah, sangat merugikan, karena torang punya kekayaan alam ini bukan cuma tambang dan sebagainya, tapi salah satunya menyangkut dengan satwa, itu yang kemudian salah satu daya tarik, dan yang sangat mahal,” timpalnya.

Masukan positif dari kalangan pecinta alam ini membuat Junet dan komunitas Pulo Tareba mulai tersadar akan pentingnya menjaga alam yang menjadi rumah bagi banyak satwa. Mereka pun bertekad mengurung kebiasaan lama berburu satwa.

Junet mengaku sangat menyesal pernah berburu satwa burung dan kuskus. Rasa penyesalan itu dia kuburkan dalam-dalam bersama dua pucuk senapan angin miliknya di tanah pekarangan rumahnya.

“Mulai saat itu saya beritikad bahwa saya harus berhenti batembak (menembak) dan torang punya senjata angin ini harus torang kasih kubur sudah, tanam sudah. Saya punya dua pucuk (senapan angin) karena satu itu hasil barter dengan burung,” ungkap Junet penuh penyesalan.

Beberapa temannya dari kelurahan lain di Ternate, kata Junet, sampai terheran-heran begitu mengetahui dirinya sudah berhenti jadi pemburu. Betapa tidak, bagi teman-temannya yang sudah biasa dihadiahi daging burung hasil buruan, merasa Junet telah berubah total dari pemburu jadi pelindung satwa.

“Teman saya satu yang jadi saksi itu Uston. Dia kuliah di Jogja. Suatu malam, dia sempat singgung, dia bilang ternyata ngoni (kamu) sudah mulai anti masalah perburuan satwa, padahal ngoni ini dulu kan Ceko punya langganan burung,” kelakar Junet mengulang perkataan Uston.

Kesadaran pentingnya perlindungan satwa dan memanfaatkan hutan sebagai wadah edukasi melalui wisata minat khusus, kata Junet, ternyata berbuah manis.

Pasalnya, begitu Pulo Tareba mulai ramai terekspose ke media sosial, dan diliput jurnalis media lokal maupun nasional membuat tempat ini diminati wisatawan. Tidak wisatawan lokal dan domestik, namun juga turis asing dari berbagai negara.

Rata-rata turis asing yang berkunjung ke Polu Tareba, tertarik karena rasa penasarannya akan Kuskus Mata Biru. Hewan nokturnal atau yang aktif pada malam hari itu, menjadi daya tarik tersendiri bagi Pulo Tareba melalui wisata jelajah fauna.

Dampak positif lainnya yang dirasakan komunitas Pulo Tareba, kata Junet, yakni mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru dari wisatawan asing, maupun lembaga seperti Burung Indonesia. Mereka pun memperoleh penghasilan dari bayar jasa dari turis asing yang ingin menjelajahi kehidupan satwa di Pulo Tareba.

Camping Area di Pulo Tareba.(Foto: TPost)

Menurut Junet, kepada masyarakat terutama pemuda sudah dibangun kesadaran, bahwa jika berburu maka hasilnya tidak akan dinikmati dalam waktu lama. Burung bisa punah. Berbeda jika mereka mengelola wisata, maka potensi yang dijaga menjadi lebih berguna. Salah satunya, seperti jasa memandu turis asing dan domestik.

“Alhamdulillah dengan kesadaran itu, yah teman-teman di sini sudah mulai merasakan, ternyata torang pandu orang-orang yang jelajah satwa itu faedahnya ada, ada penghasilan,” ucapnya.

Tantangan Menjaga Pulo Tareba
Sudah terbentuknya kesadaran masyarakat di Takome dari aktivitas perburuan liar, tidak membuat satwa burung dan Kuskus Mata Biru di Pulo Tareba seketika terbebas dari ancaman perburuan liar.

Junet yang juga Koordinator Komunitas Pulo Tareba mencatat, sudah sekitar 10 kali kasus perburuan di hutan itu dan berhasil dihalangi sampai sempat ada pelaku yang diamankan berkat bantuan Babinsa dan Bhabinkamtibmas Takome. Para pemburu kata dia, rata-rata berasal dari daerah lain di luar Ternate.

Pada beberapa kasus, senapan angin milik pelaku langsung dilucuti dan disita. Para pelaku perburuan pun diberikan peringatan dan penyadaran agar tidak mengulangi perburuan satwa.

Pernah juga, ada sekelompok oknum anggota Polri yang datang ke Pulo Tareba dengan mobil polisi sekitar pertengahan tahun 2024 lalu.

Para oknum polisi ini meminta izin untuk berburu kuskus kepadanya sebagai ketua RT, dan langsung diingatkan bahwa satwa di kawasan Pulo Tareba kini dalam pengawasan komunitasnya.

“Terus torang sampaikan, pak polisi torang sampai tidur di sini jarang turun itu karena torang mau lindungi satwa. 1×24 torang di sini (Pulo Tareba) kadang tidak mandi, jarang makan, itu untuk melindungi satwa, jadi torang minta maaf, kalau ngoni mau berburu di sini bukan tempatnya,” ujar Junet mengulang perkataannya kala itu.

Para oknum polisi itu lalu pergi meninggalkan Pulo Tareba, begitu Junet menghubungi Kapolsek Pulau Ternate yang dari loudspeaker handphone-nya langsung menegur mereka untuk tidak memaksa berburu.

Pajangan foto dokumentasi Kuskus Mata Biru dan berbagai jenis burung yang ad di Pulo Tareba.(Foto: TPost)

Dari tantangan yang ada, komunitas Pulo Tareba sebagai kelompok Perhutanan Sosial merasa bersyukur bahwa semangat yang terus mereka pupuk mendapat support dari berbagai kalangan.

Seperti kolaborasi dengan jurnalis yang terus mendukung lewat pemberitaan media, sampai ikut menggelar aksi tolak perburuan liar ketika ada Kuskus Mata Biru yang diburu.

“Alhamdulillah, sekarang ini perburuan liar sudah tidak ada lagi,” ucapnya.

Di akhir wawancara, Junet mengajak kepada orang-orang di luar sana yang masih melakukan perburuan liar supaya berhenti dengan aktivitas berburu atau memperjual-belikan satwa.

“Stop berburu satwa, karena salah satu torang punya kekayaan alam ini bukan cuma tambang, tapi alam, hutan, dan isi dari hutan, burung dan sebagainya. Jadi stop berburu satwa atau perjual-belikan satwa, karena itu sesuatu hal yang kurang bagus,” pesan Junet.***

TernatePost.id
Editor