Asmar Hi. Daud
(Akademisi Unkhair)
Jejak nikel di tanah Halmahera tidak berhenti di area tambang. Jejaknya mengalir bersama air, menumpuk di sedimen, lalu perlahan menggerus nafkah warga yang hidup dari laut dan sawah. Apa yang terjadi di Weda dan Wasile bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga cermin ketimpangan antara laju industri dan ketahanan masyarakat pesisir.
Pada 31 Oktober 2025, warga Teluk Weda menemukan seekor kerapu cacat. Akademisi dari Universitas Khairun mengaitkan temuan itu dengan penurunan kualitas air di sekitar kawasan industri nikel. Pada hari yang sama, petani Wasile menuntut penghentian sementara operasi tambang setelah lumpur merah memasuki jaringan irigasi dan merusak padi serta kolam ikan.
Peristiwa seperti ini bukan hal baru. Sejak 2018, sawah warga Wasile dan kolam benih ikan di Subaim berulang kali terendam sedimen tebal yang memutus siklus produksi. Setiap musim hujan menjadi pengingat bahwa persoalan di hulu belum terselesaikan.
Kajian Nexus3 bersama Universitas Tadulako menunjukkan warga sekitar Teluk Weda memiliki kadar merkuri dalam darah melebihi batas aman, sementara yang lainnya mengandung arsenik tinggi. Penelitian Universitas Khairun bersama WALHI dan Auriga juga menemukan logam berat seperti besi, nikel, kromium, dan merkuri pada jaringan ikan di wilayah itu. Indikator manusia dan biota seolah berbicara serempak, menandakan sistem penopang hidup mulai rapuh.
Dalam kerangka Social Ecological Systems (SES), Weda dan Wasile memperlihatkan mata rantai sebab dan akibat yang jelas. Erosi di tambang membawa sedimen dan logam ke sungai, menurunkan kualitas air, merusak tanaman, dan menekan ekonomi rumah tangga nelayan serta petani. Ketika panen berkurang dan biaya meningkat, mereka terjebak dalam lingkaran penghidupan yang semakin sempit. Modal menipis, harga pakan naik, dan konflik sosial muncul dalam tuntutan kompensasi.
Sistem tata kelola masih terbelah. Pengawasan lingkungan di hulu jarang terhubung dengan kebutuhan budidaya di hilir. Nelayan dan petani bertahan dengan cara sederhana seperti menurunkan padat tebar, menunda panen, atau mencari kerja harian. Namun tanpa perbaikan di hulu, semua itu seperti menimba air dari perahu yang bocor.
Dalam kerangka Sustainable Livelihood Framework (SLF) yang dikembangkan DFID, penghidupan disebut berkelanjutan bila mampu bertahan dan pulih tanpa merusak sumber daya. Di Weda dan Wasile, daya tahan itu melemah. Air dan tanah tercemar, solidaritas sosial menipis, modal usaha terbatas, dan pengetahuan teknologi masih rendah. Krisis ekologis perlahan berubah menjadi krisis sosial.
Meski begitu, ruang harapan tetap ada. Dalam pendekatan resilience, ketahanan bukan sekadar kemampuan untuk bertahan, melainkan kemampuan beradaptasi dan bertransformasi. Rehabilitasi fisik di hulu seperti pembangunan check dam, kolam endap, dan perbaikan drainase perlu dibarengi dengan kebijakan tegas mengenai baku mutu air, tanggung jawab lingkungan yang bisa ditagih, dan transparansi data kualitas air bagi publik.
Di tingkat komunitas, penguatan modal manusia dan sosial menjadi kunci. Pelatihan pemantauan air, teknologi pakan mandiri, dan sistem panen adaptif dapat menjadi alat bagi nelayan dan petani untuk melawan, bukan hanya bertahan. Lembaga lokal seperti kelompok nelayan atau koperasi harus diperkuat sebagai simpul pengetahuan dan negosiasi warga, sebab data yang akurat kini menjadi bentuk baru dari kekuasaan.
Pada gilirannya pesan dari Weda dan Wasile sederhana tetapi keras. Bila hulu tidak ditata, hilir akan terus membayar. Air yang membawa nikel bukan hanya menggerus dasar sungai, tetapi juga mengikis dasar keadilan. Selama kebijakan hanya menambal tanpa menyentuh akar persoalan, krisis sosial ekologis di Halmahera akan terus berulang setiap kali hujan turun.
Kita sering memuja tambang sebagai sumber devisa, namun lupa bahwa di ujung aliran air yang sama terdapat sawah, kolam, dan dapur keluarga yang ikut menanggung biayanya. Keadilan ekologis seharusnya diukur bukan dari banyaknya nikel yang diekspor, tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang masih dapat bertahan di tanah tempat nikel itu digali.


Tinggalkan Balasan