TPost – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) melayangkan desakan kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas pelaku pembunuhan yang terjadi di Desa Bobane Jaya, Kecamatan Patani Barat, pada Kamis (2/4/2026) lalu.

Korban dalam peristiwa terbaru ini diketahui merupakan seorang pemuka agama sekaligus mantan kepala desa yang ditemukan tak bernyawa di kebun miliknya, sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga.

Rentetan Teror Sejak 2012 Tanpa Titik Terang
Ketua PDPM Halteng, Supriono Sufrin, menegaskan bahwa peristiwa ini bukanlah kejadian pertama. Hutan Halmahera Tengah telah lama menjadi saksi bisu rangkaian teror mematikan yang hingga kini belum terungkap siapa dalang di baliknya.

Supriono mengibaratkan kasus-kasus pembunuhan di wilayah tersebut sebagai “penyakit kronis” karena sudah terlalu lama dibiarkan tanpa penyelesaian yang jelas.

Berdasarkan catatan yang ada, rentetan tragedi ini telah terjadi selama bertahun-tahun, di antaranya:

2012: Tujuh warga Desa Dotte hilang tanpa jejak di lautan pada malam tahun baru.

2019: Seorang warga Messa 2 ditemukan tewas di kebun kelapa.

2021: Tragedi memilukan di Kali Gowonle yang merenggut tiga nyawa.

2023: Serangan Orang Tak Dikenal (OTK) di Patani Timur dan Kali Desa Dotte.

2025: Warga Desa Dotte kembali dipanah saat sedang mengambil kerang di sungai.

2026: Pembunuhan terbaru di Desa Bobane Jaya.

Polisi Dinilai Tak Berdaya dan Lamban
Kritik tajam diarahkan kepada aparat penegak hukum yang dinilai seolah tidak berdaya mengungkap pelaku, padahal sejumlah alat bukti telah dikantongi, termasuk hasil autopsi dari korban kasus Kali Gowonle.

PDPM Halteng bahkan mempertanyakan komitmen kepolisian dalam memberikan rasa aman kepada warga, khususnya para petani yang kini dilingkupi rasa takut saat beraktivitas.

“Kami patut menduga jangan-jangan polisi sudah mengetahui pelaku, tapi karena ada alasan lain sehingga ini dibiarkan. Kami berhak bertanya sudah sejauh mana langkah pihak kepolisian,” tegas Supriono, Jumat (10/4/2026).

Selain itu, pihak keamanan juga dituding lalai dalam melakukan deteksi dini. Pasca penemuan jenazah di Bobane Jaya, terjadi bentrokan antarwarga yang diduga dipicu oleh lambatnya respons polisi.

Terdapat jeda waktu sekitar 13 jam dari penemuan mayat hingga terjadinya bentrok, yang seharusnya bisa dimanfaatkan polisi untuk mengambil langkah preventif dengan menghadirkan personel di lokasi.

Desakan Pengerahan Sumber Daya Penuh
Menutup pernyataannya, Supriono yang juga menjabat sebagai Sekretaris PWI Halteng ini menyarankan agar Polri mengerahkan seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada untuk membongkar sindikat atau pelaku di balik teror ini.

Menurutnya, rasa aman adalah hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh negara melalui pihak kepolisian sebagai pengayom masyarakat.

TernatePost.id
Editor