TPost — Hanya butuh waktu 15 menit menggunakan perahu dari dermaga Desa Mawea, Halmahera Utara, untuk tiba di sebuah dunia yang benar-benar berbeda.
Begitu kaki menginjak pasir putih Pulau Meti, hiruk-pikuk Kota Tobelo seolah menguap, digantikan oleh desiran angin dan ketenangan yang menyambut setiap pengunjung.
Pulau seluas kurang lebih 10 kilometer persegi ini bukan sekadar destinasi wisata biasa; ia adalah “surga tersembunyi” yang menawarkan pelarian romantis dan eksotis bagi siapa saja yang haus akan kedamaian alam.
Sentuhan Personal di “Rumah Besar” Meti
Di balik pesona Meti Cottage, terdapat sosok Hadi, sang pemilik asal Yogyakarta yang membawa filosofi unik dalam mengelola penginapannya.
Baginya, wisatawan yang datang bukan sekadar penyewa kamar, melainkan bagian dari keluarga besar.
“Kalau mereka tinggal di sini, mereka merasa bukan tinggal di resort, tapi seperti di rumah besar,” ujar Hadi kepada ternatepost.id, Rabu (29/7/2026).
Pendekatan personal inilah yang membuat banyak turis mancanegara, terutama dari Eropa seperti Jerman dan Prancis, betah berlama-lama bahkan kembali lagi berkali-kali.
Ada tamu dari Dusseldorf, Jerman, yang pernah menginap selama sebulan penuh dan kembali lagi untuk kunjungan tiga minggu karena rindu akan suasana kekeluargaan di pulau ini.
Keunikan lain dari Meti Cottage terletak pada desain bangunannya. Di sini, Anda akan menemukan perpaduan harmonis antara konsep Bohemian, Tropis, dan sentuhan budaya Jawa.

Hadi, yang bekerja sama dengan seorang arsitek asal Prancis bernama Maxi, tidak ingin menghilangkan akar budayanya.
Pohon-pohon kelapa di area cottage mulanya dibalut dengan kain batik Jawa, dan ornamen-ornamen khas Jawa tersebar di berbagai sudut Meti Cottage dan La Meti (Caffe).
Menariknya, fasilitas yang paling favorit bagi turis asing justru kamar yang paling sederhana: tanpa AC dan tanpa air panas.
Mereka lebih memilih menyatu dengan alam, tidur ditemani desiran ombak dan udara terbuka yang segar.
Jejak Sejarah di Kedalaman Laut
Bagi pecinta petualangan bawah laut, Pulau Meti menyimpan rahasia sejarah di kedalamannya.
Pada kedalaman sekitar 25 meter, terdapat bangkai pesawat tentara Jepang peninggalan Perang Dunia II yang kini menjadi titik diving eksotis.
Tak hanya itu, di bagian timur pulau, masih ditemukan meriam artileri peninggalan masa lalu.
Meski titik koordinat bangkai pesawat ini kadang bergeser karena arus pasir di dasar laut, keberadaannya tetap menjadi daya tarik bagi penyelam yang ingin mengeksplorasi sisi lain Halmahera.
Dampak Nyata bagi Warga Lokal
Kehadiran pariwisata di Pulau Meti juga membawa berkah bagi masyarakat Desa Meti.
Kepala Desa Meti, Permenas Tukuru, mengungkapkan bahwa wisata ini tidak hanya mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan warga lokal, tetapi juga menjadi sarana edukasi.
Anak-anak sekolah di pulau ini mendapatkan kesempatan langka untuk belajar bahasa Inggris langsung dari para turis mancanegara.
Pengalaman yang Sepadan
Meski dikenal sebagai destinasi eksklusif dengan harga kamar mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp4,5 juta, Pulau Meti tetap terbuka untuk umum.
Pengunjung harian cukup membayar sekitar Rp100.000 yang sudah termasuk minuman selamat datang dan camilan untuk bisa menikmati keindahan pulau seharian penuh.

Bagi banyak orang, harga tersebut dianggap sepadan dengan pengalaman “hidden gem” yang ditawarkan.
“Tempat ini Instagrammable banget, eksotis, dan ada sisi romantisnya,” ujar Febritriyatmoko, salah satu peserta Capacity Building Media Partner Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara yang diselenggarakan di Pulau Meti.
Pulau Meti adalah bukti bahwa kemewahan sejati tidak selalu tentang fasilitas modern, melainkan tentang bagaimana kita bisa kembali menyatu dengan alam dan merasakan kehangatan sebuah keluarga di tengah pengasingan yang indah.***
Penulis: Kinar Ways
Editor: Erdian



Tinggalkan Balasan