TPost – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-XII resmi diselenggarakan di Kota Ternate, Maluku Utara.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan (open ceremony) yang dipusatkan di Benteng Oranje, Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman menyambut hangat para delegasi dari berbagai kota pusaka dengan menggaungkan semangat persatuan lokal “Marimoi Ngone Futuru” (Bersatu Kita Teguh) di negeri asal rempah.

Wali Kota Tauhid menegaskan bahwa Ternate, bersama Tidore, Bacan, dan Jailolo yang berada dalam bingkai Moloku Kie Raha, merupakan kepulauan legendaris penghasil pala dan cengkih.

Dalam catatan sejarah, wilayah ini dikenal sebagai Jajiratul Mulkiyah (Negeri para Raja) sekaligus titik nol geopolitik dunia yang berfungsi sebagai bandar jalur rempah.

Nilai ekonomi cengkih dan pala yang pernah melampaui emas menjadikannya daya tarik politik bagi imperium besar dunia—mulai dari Romawi, Tiongkok, Arab, Persia, Portugis, Spanyol, Inggris, hingga kongsi dagang VOC Belanda.

“Leluhur kita bukanlah subjek pasif semata, melainkan aktor ulung yang terlibat aktif dalam dinamika politik dan perdagangan global, sekaligus gigih mempertahankan kedaulatan atas kekayaan alam (megadiversity) di masa lampau,” ujar Tauhid dalam pidatonya.

Ia menambahkan bahwa Rakernas JKPI XII yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 30 Agustus 2026 ini menjadi momentum penting bagi kota-kota pusaka di Indonesia untuk merevitalisasi koneksi sejarah, diplomasi, dan interaksi sosial-ekonomi masa lalu.

Rangkaian acara tahun ini dikemas secara menarik, mulai dari pelaksanaan Festival Gastronomi hingga kegiatan pra-Rakernas seperti kolaborasi bersama budayawan dan jurnalis senior Taufik Rahzen di Benteng Oranje.

Pada Selasa, 25 Agustus 2026, telah digelar pula diskusi bertema “Pustaka Kopi & Film” yang membawa ingatan publik pada masa kegemilangan para penguasa Muslim global dan Kesultanan Moloku Kie Raha dalam mengontrol perdagangan rempah dunia.

Menghadapi tantangan modern, Tauhid menyerukan pentingnya transformasi tata kelola pemerintahan daerah agar lebih ekstraktif dan responsif.

Konsep ekstraktif di sini dimaknai secara positif, yaitu kemampuan pemerintah daerah untuk menggali potensi lokal secara bijaksana dan adil guna menyediakan pelayanan publik berkualitas, sekaligus menjadi antitesis terhadap politik kolonial masa lampau yang opresif.

Ia juga menekankan bahwa City Branding “Ternate Kota Rempah” bukan sekadar slogan kosong, melainkan sebuah pengalaman kedaulatan dan seruan aksi kolektif untuk menyinergikan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku kreatif, hingga masyarakat luas.

Melalui sinergi ini, identitas budaya lokal yang berbasis nilai-nilai luhur diharapkan dapat menjadi jalan solutif dalam menghadapi berbagai problematika perkotaan dan tantangan global saat ini.

Mengakhiri sambutannya, Wali Kota Ternate berharap Rakernas JKPI ke-XII tidak hanya menjadi agenda seremonial belaka.

Ia mendorong agar kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan kebudayaan daerah serta menjadi lokomotif pemajuan kebudayaan dan pelestarian cagar budaya.

Salah satu agenda penting yang disorot adalah “Lawatan Nusantaria” melalui program ARSIPELAGOS kerja sama JKPI dan PELNI, yang bertujuan menghidupkan kembali tradisi maritim dan memperkuat posisi geopolitik kawasan melalui ekosistem kelautan.

TernatePost.id
Editor