TPost — Dunia jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh pesona seekor burung eksotis asal Maluku Utara.
Burung yang dikenal dengan nama Pitta Halmahera ini menjadi viral karena memiliki kombinasi warna alami pada tubuhnya yang dinilai sangat mirip dengan bendera Palestina.
Menanggapi fenomena tersebut, Koordinator Burung Indonesia Wilayah Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Beni Aladin Siregar, memberikan penjelasannya terkait karakteristik morfologi serta keunikan burung endemik yang luar biasa ini.
Morfologi Warna yang Identik dengan Bendera Palestina
Kemiripan warna Pitta Halmahera dengan bendera kebangsaan Palestina bukanlah isapan jempol belaka.
Beni membenarkan bahwa jika dilihat dari morfologi warnanya, burung ini memang memiliki komposisi warna yang serupa.
“Kalau dari morfologi warna memang seperti itu ya. Punggungnya hitam, di sayapnya ada hijau sedikit corak kebiruan, terus ada di dadanya putih dan merah gitu. Kalau dari segi warna kan dia memang sama persis ya dengan bendera Palestina dengan komposisi warna itu,” jelas Beni kepada ternatepost.id, Senin (24/8/2026).
Kombinasi warna merah, hitam, putih, dan hijau yang menyelimuti tubuhnya membuat burung ini terlihat sangat mencolok sekaligus indah saat berdiri tegak di lantai hutan.
Burung Pitta Terbesar di Dunia
Selain keunikan warnanya, burung yang oleh masyarakat lokal Halmahera Timur disebut sebagai burung Fofo ini memegang rekor yang mengagumkan di dunia fauna.
Beni mengungkapkan bahwa Pitta Halmahera merupakan jenis pitta dengan ukuran tubuh paling besar di antara seluruh jenis pitta yang ada di bumi, itu sebabnya burung ini memiliki nama ilmiah Pitta maxima.
“Dibandingkan seluruh pitta di seluruh dunia, burung ini yang paling besar bentuk tubuhnya, ukuran tubuhnya,” ungkap Beni.
Jika burung pitta pada umumnya hanya memiliki tinggi sekitar 15 hingga 18 sentimeter, ukuran tubuh Pitta Halmahera bisa mencapai dua kali lipatnya.
“Itu sampai 30 senti tingginya. Eh, 25 sampai 28 sentian, jadi cukup tinggi. Mirip anak ayam lah tingginya, dan posturnya kayak berdiri tegak gitu,” tambah Beni menggambarkan fisik burung tersebut.
Si Raksasa Lantai Hutan yang Pemalu dan Sensitif
Meskipun menyandang predikat sebagai pitta terbesar, burung Fofo ini memiliki sifat yang sangat pemalu dan sensitif terhadap kehadiran manusia.
Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di lantai hutan atau serasah bawah untuk mencari makan berupa cacing dan siput hutan (keong/bekicot).
Walau dibekali kemampuan terbang, burung ini sangat jarang menggunakannya karena seluruh ruang hidupnya berada di permukaan tanah.
Sifat sensitif ini membuat mereka sangat sulit diamati secara langsung dengan mata kepala sendiri.
“Dia sensitif dengan gangguan. Jadi kalau kita jalan ada suara di serasah-serasah daun gitu dia langsung kabur,” kata Beni.
“Dia burung pemalu, kalau ada manusia lewat biasanya dia sembunyi dulu atau tidak bersuara. Nanti kalau sudah pergi jauh baru dia bersuara lagi,” timpal Beni.
Oleh karena itu, Pitta Halmahera sangat bergantung pada kelestarian habitat hutan alam yang lebat.
Burung ini tidak akan bisa bertahan hidup di area perkebunan monokultur yang terbuka.
“Burung ini ada di habitat hutan yang masih bentuknya hutan. Jadi kalau sudah diganti kebun kelapa, kebun cengkeh, kebun pala, itu dia sudah tidak ada di situ. Karena dia butuh komposisi tanaman hutan yang berbagai macam dan tertutup,” tegas Beni.
Spesies Kunci dan Magnet Wisatawan Dunia
Dari segi konservasi, Beni menjelaskan bahwa Pitta Halmahera saat ini tidak dikategorikan sebagai satwa yang terancam punah.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Burung Indonesia pada tahun 2019, populasi burung ini tergolong tinggi, tersebar merata di seluruh hutan Pulau Halmahera, dan relatif mudah dijumpai di habitat aslinya yang masih terjaga.
Kendati demikian, burung ini tetap berstatus sebagai spesies kunci (key species) karena nilai endemisitasnya yang sangat tinggi di Maluku Utara.
Keunikan ukuran, warna, serta status endemisitasnya kini menjelma menjadi daya tarik pariwisata yang sangat besar bagi Maluku Utara.
“Sekarang banyak sekali wisatawan asing dari luar negeri terutama fotografer dan pengamat burung dunia yang sengaja datang ke Maluku Utara hanya untuk memfoto jenis-jenis burung pitta,” pungkas Beni.
Di Maluku Utara sendiri, para petualang dan fotografer dunia biasanya mengincar tiga variasi target pitta, yaitu Pitta Halmahera, subspesiesnya yang berada di Pulau Morotai, serta kerabat dekatnya yang berukuran lebih kecil, yaitu Pitta Maluku Utara atau kerap dikenal dengan Pitta Jailolo.***


Tinggalkan Balasan