Asmar Hi. Daud

(Akademisi Unkhair)

Tulisan ini menanggapi berita Tampil News berjudul “Guru Besar Universitas Khairun Ungkap Penyebab Air Laut di Pulau Obi Berubah Warna” yang diterbitkan pada 3 Agustus 2026.

Berita tersebut menyatakan bahwa perubahan warna air laut menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan di Jikotamo, Dermaga Jojame, Anggai, hingga Madopolo, disertai bau menyengat dan kematian ikan budidaya, “murni” disebabkan oleh blooming fitoplankton atau lonjakan alga dan bukan berasal dari aktivitas industri pertambangan (Tampil News, 2026).

Klaim itu penting diperiksa secara kritis, bukan untuk menyerang pribadi akademisi yang memberikan penjelasan, melainkan untuk memastikan bahwa kesimpulan yang disampaikan kepada publik sebanding dengan bukti yang tersedia.

Dalam sains, terdapat perbedaan mendasar antara observasi, dugaan, hipotesis, hasil pengujian, dan kesimpulan. Penggunaan kata “murni” menunjukkan bahwa penyebab lain telah dieliminasi. Karena itu, klaim tersebut menuntut bukti yang jauh lebih kuat daripada pengamatan visual atau penjelasan mekanisme yang secara teoritis mungkin terjadi.

Blooming Masuk Akal, tetapi Bukan Penjelasan Akhir
Secara ekologis, dugaan blooming fitoplankton masuk akal. Ledakan populasi alga dapat mengubah warna air menjadi hijau, cokelat, merah, atau warna lainnya, tergantung jenis organisme dan kepadatannya. Ketika biomassa alga mati dan terurai, bakteri menggunakan oksigen terlarut untuk proses dekomposisi.

Kondisi tersebut dapat memicu hipoksia atau anoksia sehingga ikan mengalami stres, kesulitan bernapas, dan akhirnya mati. Kelebihan nitrogen dan fosfor juga diketahui dapat mempercepat pertumbuhan alga; ketika alga mati, proses penguraiannya menghabiskan oksigen yang dibutuhkan biota perairan (US EPA, 2026; NOAA, tanpa tahun).

Namun, membuktikan adanya blooming tidak sama dengan membuktikan bahwa blooming tersebut “murni” disebabkan oleh proses alam. Blooming adalah fenomena biologis, sedangkan sumber pemicunya merupakan persoalan kausal yang berbeda.

Pertumbuhan fitoplankton dipengaruhi oleh suhu, cahaya, salinitas, kestabilan kolom air, arus, dan ketersediaan nutrien. Nutrien itu dapat berasal dari proses alami, tetapi dapat pula berasal dari limpasan daratan, erosi, limbah domestik, perubahan penggunaan lahan, kegiatan pelabuhan, maupun aktivitas industri.

Dengan demikian, proses biologis yang alamiah dapat dipicu atau diperkuat oleh tekanan antropogenik. Pertanyaan ilmiahnya bukan hanya “apakah terjadi blooming?”, tetapi juga “spesies apa yang berkembang, berapa kelimpahannya, dari mana nutrien berasal, dan faktor apa yang menjelaskan waktu serta pola sebarannya?”

Tanpa identifikasi fitoplankton, pengukuran klorofil-a, oksigen terlarut, nitrogen, fosfat, salinitas, pH, dan parameter pendukung lainnya, perubahan warna air baru merupakan indikasi awal, bukan diagnosis final.

El Niño Relevan, tetapi Belum Membuktikan Kausalitas Lokal
Berita Tampil News juga mengaitkan fenomena tersebut dengan musim kemarau, El Niño, dan kenaikan suhu perairan sekitar dua derajat Celsius. Berbeda dari pembacaan yang menganggap El Niño belum berlangsung, data BMKG menunjukkan bahwa pada Dasarian II Juli 2026 El Niño telah aktif dengan intensitas kuat.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau pada Agustus 2026, termasuk di sebagian wilayah Maluku Utara (BMKG, 2026a; BMKG, 2026b). Karena berita diterbitkan pada 3 Agustus 2026, hipotesis pengaruh kondisi iklim dan kemarau tidak boleh ditolak begitu saja.

Akan tetapi, keberadaan El Niño pada skala regional belum membuktikan bahwa kejadian spesifik di Pulau Obi disebabkan olehnya. Penjelasan tersebut membutuhkan data lokal: suhu permukaan laut sebelum, selama, dan sesudah kejadian; lokasi serta kedalaman pengukuran; variasi siang-malam; anomali terhadap rata-rata klimatologis; pola angin; curah hujan; dan kestabilan kolom air.

Pernyataan “naik dua derajat” juga harus disertai titik pembanding yang jelas. Dua derajat dibandingkan dengan hari sebelumnya, rata-rata bulanan, musim yang sama tahun lalu, atau normal klimatologis jangka panjang?

El Niño dan suhu tinggi dapat menyediakan kondisi yang mendukung blooming, tetapi tidak otomatis menjadi penyebab tunggal. Dalam ilmu lingkungan, faktor iklim sering berinteraksi dengan kondisi lokal, termasuk masukan nutrien, perubahan tata guna lahan, debit sungai, dan dinamika pesisir.

Karena itu, bukti iklim regional seharusnya digunakan untuk memperkuat hipotesis, bukan untuk menutup pengujian terhadap faktor lain.

Argumen Utara-Selatan Tidak Cukup
Dalam perberitaan juga juga dinyatakan bahwa hubungan dengan industri tidak tepat secara spasial karena perubahan warna dominan terjadi di wilayah utara, sedangkan kawasan industri berada di selatan dan arah perairannya dianggap berlawanan.

Secara oseanografis, argumentasi ini belum memadai. Perairan pesisir bukan ruang statis. Transport material dipengaruhi oleh arus pasang-surut, arus residu, angin, gelombang, bentuk garis pantai, kedalaman, stratifikasi, debit sungai, pusaran lokal, dan resuspensi sedimen.

Arah arus dapat berubah dalam hitungan jam mengikuti fase pasang dan surut, serta dapat berbeda antara permukaan dan lapisan bawah. Peta lokasi hanya menunjukkan posisi geografis, bukan jalur perpindahan massa air atau material.

Untuk meniadakan keterhubungan antarlokasi diperlukan pengukuran arah dan kecepatan arus, data pasang-surut, pelacakan massa air, atau pemodelan hidrodinamika dan sebaran partikel.

Karena itu, posisi industri di selatan dan lokasi perubahan warna di utara tidak dapat digunakan sendirian sebagai bukti bahwa keduanya pasti tidak berhubungan. Kesimpulan tersebut hanya dapat dibuat setelah pola hidrodinamika setempat diuji secara memadai.

Pengamatan Lima Hari dan Persoalan Logam Berat
Berita Tampil News menyebut pengamatan sekitar lima hari di Obi Selatan tidak menemukan indikasi pencemaran atau penurunan parameter kualitas air.

Informasi ini belum cukup untuk meniadakan pencemaran karena tidak dijelaskan waktu pengamatan, jumlah titik, parameter yang diukur, metode pengujian, hasil numeriknya, maupun lokasi kontrol.

Selain itu, pengamatan di Obi Selatan tidak otomatis mewakili Jikotamo, Jojame, Anggai, dan Madopolo. Kenapa? Karena kualitas air bersifat dinamis.

Pelepasan kontaminan atau peningkatan kekeruhan dapat bersifat episodik dan dipengaruhi pasang-surut, hujan, debit sungai, angin, atau kegiatan operasional.

Oleh karenya, sampel yang diambil di luar waktu kejadian dapat menunjukkan keadaan normal meskipun sebelumnya terjadi perubahan yang signifikan.

Pernyataan bahwa logam berat mengendap di dasar dan tidak menyebabkan air berwarna hijau memang mengandung bagian yang benar, tetapi terlalu menyederhanakan perilaku logam di lingkungan laut.

Logam dapat terikat pada sedimen, tetapi juga berada dalam fase terlarut, koloid, atau melekat pada partikel tersuspensi. Resuspensi akibat gelombang dan arus dapat melepaskan kembali nutrien dan sebagian logam ke kolom air (Kalnejais, Martin, dan Bothner, 2010).

Lebih penting, pengaruh kegiatan industri tidak hanya dapat diuji melalui logam berat. Pembukaan lahan, pengupasan tanah, pembangunan jalan, timbunan, drainase, pelabuhan, dan pergerakan kapal dapat mengubah sedimentasi, kekeruhan, masukan nutrien, serta sirkulasi lokal. Jadi, warna hijau tidak membuktikan pencemaran logam berat, tetapi juga tidak membuktikan bahwa aktivitas industri sama sekali tidak berkontribusi.

Kesimpulan Mendahului Pengujian
Kontradiksi paling jelas terdapat di dalam berita itu sendiri. Pada bagian awal, penyebab kejadian telah dinyatakan “murni” fenomena alam.

Namun, pada bagian akhir, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara menyatakan bahwa tim masih akan mengambil sampel untuk mengetahui secara pasti parameter dan sumber fenomena tersebut (Tampil News, 2026).

Jika sampel masih harus diambil untuk menentukan penyebab, secara metodologis penyebab itu belum dapat dinyatakan pasti. Urutan kerja ilmiah seharusnya adalah observasi, perumusan beberapa hipotesis, desain pengambilan sampel, analisis laboratorium, pengujian alternatif penyebab, lalu penarikan kesimpulan. Bukan observasi, kesimpulan mutlak, kemudian pengambilan sampel untuk membenarkannya.

Investigasi yang kredibel perlu memeriksa suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, TSS, klorofil-a, nitrogen, fosfat, amonia, sulfida, bahan organik, BOD, COD, jenis dan kelimpahan fitoplankton, serta toksin bila ditemukan spesies berbahaya. Logam perlu dianalisis pada air, padatan tersuspensi, sedimen, dan biota.

Demikian juga, lokasi sampling harus mencakup titik perubahan warna, kematian ikan, muara sungai, kawasan industri, jalur arus potensial, dan lokasi kontrol. Data tersebut kemudian dipadukan dengan citra satelit, curah hujan, penggunaan lahan, kegiatan operasional, dan pemodelan hidrodinamika.

Sains tidak menolak hipotesis blooming fitoplankton. Hipotesis tersebut logis dan layak diuji. Sains juga tidak boleh tergesa-gesa menyalahkan industri. Namun, sains tidak membenarkan pembebasan industri secara prematur sebelum seluruh kemungkinan diperiksa.

Sampai hasil laboratorium, identifikasi plankton, analisis nutrien, pemeriksaan kontaminan, dan kajian arus diumumkan secara lengkap dan transparan, frasa “murni fenomena alam” belum merupakan kesimpulan ilmiah. Ia adalah klaim yang masih menunggu pembuktian.***