TPost — Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai dirasakan petani perkebunan di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Tanaman pala, cengkeh hingga kelapa dilaporkan mengalami kekurangan pasokan air yang berdampak pada kondisi tanaman dan hasil produksi.
Kondisi tersebut mendorong petani meminta Pemerintah Kota Tidore Kepulauan tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan tanaman perkebunan yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah.
Hajiji Dulahe, salah seorang pemilik tanaman pala di Kelurahan Ome, Kecamatan Tidore Utara, mengatakan pala telah menjadi bagian penting dari komoditas perkebunan Tidore sejak dahulu.
Karena itu, menurut dia, keberlangsungan tanaman pala semestinya menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama ketika petani menghadapi kondisi kekeringan.
“Ini bencana alam yang harus jadi atensi pemerintah. Pemkot Tidore harus turun tangan mengatasi masalah ini. Pala dan cengkeh adalah komoditas unggulan yang sering digaungkan pemerintah untuk dilestarikan. Jangan hanya beretorika dan membiarkan komoditas itu mati tanpa ada penanganan dari pemerintah,” kata Hajiji, Senin (21/9/2026).
Ia menjelaskan, sebagian tanaman perkebunan milik warga mulai mengalami dampak kekurangan air.
Daun tanaman mengering, sementara buah pala mengalami kerutan. Bahkan, kata dia, terdapat sejumlah pohon yang kondisinya telah mengalami kerusakan hingga mati.
Menurut Hajiji, kondisi tersebut membutuhkan respons cepat pemerintah daerah.
Ia meminta Wali Kota Tidore Kepulauan menginstruksikan Dinas Pertanian berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk BPBD dan PDAM, untuk mencari solusi penyediaan air bagi tanaman perkebunan warga.
“Wali Kota Tidore harus keluarkan kebijakan, memanggil dan memerintahkan Dinas Pertanian, instansi bencana alam serta PDAM untuk mengatasi kekurangan air pada tanaman. Jangan hanya diam dan tidak melakukan apa-apa,” ujarnya.
Ia mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap sektor perkebunan yang selama ini menjadi bagian dari identitas Tidore sebagai daerah penghasil rempah-rempah.
“Tidore dijuluki daerah penghasil rempah-rempah, tapi perhatian pemerintah terhadap bahan baku rempah-rempah itu sendiri tidak ada,” katanya.
Hajiji juga menyoroti program Dinas Pertanian Tidore berupa pemberian pupuk dan bibit tanaman perkebunan.
Ia menilai program tersebut tetap penting untuk keberlangsungan perkebunan dalam jangka panjang, tetapi belum menjawab persoalan yang sedang dihadapi petani saat ini, yakni keterbatasan air.
“Program Distan itu lebih cocok untuk jangka panjang karena tanaman pala saat ini butuh air. Setelah air baru pupuk. Jadi kami sarankan Distan berkolaborasi dengan PDAM atau BPBD agar menghadirkan air. Masa tanaman dibiarkan mati kemudian ditanam dengan yang baru? Kan sungguh disayangkan,” ucapnya.
Petani Pertanyakan Langkah Pemkot
Keluhan serupa disampaikan Ramli Ibrahim, petani pala lainnya.
Ia mempertanyakan kesiapan Pemkot Tidore Kepulauan dalam menghadapi fenomena El Nino yang menurutnya telah diprediksi sejak jauh hari.
Ramli mengatakan, sejumlah daerah telah mengambil langkah antisipasi untuk menghadapi kekeringan, termasuk melalui berbagai upaya penyediaan air dan penguatan ketahanan pangan.
“Kalau kita ikuti pemberitaan, ada beberapa daerah yang berupaya melakukan hujan buatan. Kalau Kota Tidore sudah lakukan apa? Karena El Nino ini sudah diprediksi sejak awal tahun 2026, sekarang dampaknya mulai terasa, dari kebakaran lahan warga hingga tanaman warga mulai kering. Langkah ikhtiar yang sudah dilakukan Pemkot Tidore apa?” tanya Ramli.
Ia berharap pemerintah daerah segera melihat kondisi yang dihadapi petani perkebunan dan memberikan solusi nyata, khususnya untuk menyelamatkan tanaman pala, cengkeh dan kelapa dari dampak kekeringan.
“Kami berharap Pak Wali Kota dan Pak Wakil serta Kepala Dinas Pertanian Tidore bisa memberikan solusi dan jalan keluar kepada kami para petani,” harapnya.

Tinggalkan Balasan