TPost — Perjalanan selama 15 menit membelah ombak dari Dermaga Mawea menggunakan perahu ketinting membawa kita pada sebuah daratan dengan hamparan pasir putih yang memukau.
Air lautnya begitu jernih, seolah menjadi cermin bagi langit biru Maluku Utara yang luas. Inilah Pulau Meti, sebuah kepingan surga di wilayah Tobelo Timur, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara yang kini tengah bersolek menyambut dunia.
Namun, di balik lambaian pohon kelapa dan ketenangan ombaknya, Pulau Meti menyimpan narasi sejarah yang mendalam.
Bagi Kepala Desa Meti, Permenas Tukuru, pulau ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan saksi bisu perubahan zaman yang terekam bahkan dalam namanya sendiri.
Dari “Miti” Menjadi “Meti”
Dalam sebuah percakapan hangat, Permenas mengisahkan bahwa identitas pulau ini sempat bergeser akibat pengaruh kehadiran tentara Jepang di masa lalu.
“Orang tua Tobelo bilang itu sebenarnya Miti,” tuturnya menjelaskan asal-usul nama asli pulau tersebut kepada ternatepost.id, Rabu (29/7/2026).
Perubahan pelafalan menjadi “Meti” terjadi saat tentara Jepang menjadikan pulau ini sebagai basis pertahanan.
“Itu masuk trik dengan penukaran sisi ‘Me’ jadi ‘Meti’, mungkin pengaruh dari zaman Jepang itu,” tambah Permenas.
Kehadiran militer di masa Perang Dunia II tersebut juga menyisakan trauma kolektif bagi generasi tua; banyak penduduk yang terpaksa lari ke arah gunung karena takut akan kekejaman tentara, meski ada pula yang memilih bertahan.
Sisa-Sisa Pangkalan Militer yang Terlupakan
Sejarah mencatat Pulau Meti (atau Miti) sebagai bekas pangkalan udara dan pertahanan militer Jepang yang krusial untuk menghadapi kekuatan sekutu.
Dahulu, pulau ini dipenuhi dengan kendaraan militer dan berbagai peralatan berat. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak artefak berharga seperti mobil dan roda-roda besar yang hilang dijual sebagai besi tua.

Meski begitu, jejak-jejak kedigdayaan militer masa lalu masih bisa ditemukan oleh para pelancong yang gemar bertualang. Di sana, sebuah meriam sepanjang lima meter masih berdiri meski kondisinya mulai rusak berat. Ada pula enam lubang perlindungan, bunker, serta landasan pesawat terbang.
Uniknya, landasan pesawat yang dahulu menjadi tempat pacu mesin-mesin perang, kini telah beralih fungsi menjadi jalan setapak yang diapit oleh rumah-rumah penduduk Desa Meti.
Magnet Wisata Mancanegara
Kini, gemuruh pesawat tempur telah digantikan oleh gelak tawa wisatawan. Permenas mengungkapkan bahwa Pulau Meti mulai dikenal luas dan menarik pengunjung dari berbagai negara.
Keindahan bawah lautnya menjadi magnet utama, terutama bagi para pencinta diving dan snorkeling yang ingin melihat terumbu karang berwarna-warni serta berbagai jenis ikan yang menghuni perairan jernih tersebut.
Bagi pengunjung yang ingin sekadar bersantai, pulau ini menawarkan fasilitas cottage dengan panorama pasir putih yang menenangkan.
Owner Meti Cottage, Hadi, mengusung konsep berbeda dari penginapan pada umumnya, Meti Cottage di Pulau Meti menawarkan pengalaman wisata yang memadukan kedekatan personal dengan kekayaan budaya.

Berlatar belakang pendidikan arsitek, Hadi mengungkapkan bahwa pembangunan vila ini merupakan wujud penerapan ilmunya dengan sentuhan personal yang mendalam.
Daya tarik utama Meti Cottage terletak pada arsitekturnya yang merupakan hasil akulturasi berbagai gaya.
Hadi bekerja sama dengan seorang arsitek asal Prancis bernama Maxi untuk menciptakan ruang yang unik. Desain penginapan ini menggabungkan konsep Bohemian, Tropis, dan sentuhan kuat budaya Jawa.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul keluarganya (family root), Hadi pernah menyematkan ornamen Jawa seperti kain batik yang membalut pohon-pohon kelapa serta elemen yang menyerupai konsep wayang pada beberapa bagian bangunan.
Lebih dari Sekadar Penginapan: Suasana Kekeluargaan
Bagi para wisatawan mancanegara, khususnya yang berasal dari Eropa seperti Jerman, Meti Cottage bukan sekadar tempat menginap, melainkan “rumah besar”. Hadi menekankan pentingnya personal approach dalam menyambut tamu.
“Mereka merasa bukan tinggal di resort, tapi seperti di keluarga besar,” ujar Hadi.
Hal inilah yang membuat banyak turis betah tinggal dalam waktu lama, mulai dari tiga minggu hingga satu bulan, dan memilih untuk kembali berkunjung di tahun-tahun berikutnya.
Menyatu dengan Alam tanpa Sekat
Salah satu keunikan yang paling dicari tamu adalah fasilitas menginap yang minim intervensi teknologi.
Kamar-kamar favorit di Meti Cottage justru yang tidak menggunakan AC maupun air panas. Dengan desain udara terbuka, tamu dapat langsung merasakan desiran ombak dan angin laut yang segar. Meski begitu ada juga pilihan kamar ber-AC.
Hadi sendiri mengaku lebih nyaman tidur di area jembatan yang dikelilingi alam terbuka karena memberikan ketenangan dan kualitas tidur yang lebih baik bagi kesehatan.
Wisata Sejarah Bawah Laut
Selain kenyamanan penginapan, Pulau Meti menyimpan potensi wisata bawah laut yang menantang. Di kedalaman 25 meter, terdapat “Wreck Meti”, yaitu bangkai pesawat tentara Jepang peninggalan Perang Dunia II yang menjadi titik diving favorit.
Meski lokasinya sering berubah karena pergerakan pasir dan arus, situs ini tetap menjadi incaran penyelam.

Selain itu, terdapat pula artefak sejarah berupa meriam artileri Jepang di sisi timur pulau yang menambah kekayaan histori wisata di kawasan ini.
Menjelajahi sisi timur pulau juga memberikan pengalaman tersendiri dengan pemandangan daratan utama Halmahera, hutan alami, serta formasi batuan karang yang estetik.
Jangan lewatkan pula untuk mampir ke Pulau Pasirtimbul yang letaknya tak jauh di sebelah utara Meti untuk melengkapi pengalaman liburan.
Dengan pendekatan yang mengutamakan hubungan emosional dan kelestarian alam, Meti Cottage terus menjadi destinasi pilihan bagi mereka yang mencari ketenangan dan keautentikan di Maluku Utara.***
Penulis: Erdian
Editor: Erdian



Tinggalkan Balasan