TPost – Situasi di Desa Lelilef, kawasan lingkar tambang PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT. IWIP) sempat memanas pada Senin (30/3/2026).

Warga setempat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan gerbang perusahaan.

Aksi protes ini dipicu oleh berbagai dampak lingkungan yang diduga kuat bersumber dari aktivitas operasional perusahaan di wilayah tersebut.

Ketegangan sempat memuncak ketika massa aksi terlibat aksi saling dorong dengan aparat keamanan yang berjaga di lokasi.

Koordinator aksi, Hasan Syafrudin, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk desakan agar pihak perusahaan segera menindaklanjuti lima tuntutan utama masyarakat.

Lima Tuntutan Utama Warga Dalam orasinya, Hasan membeberkan lima poin krusial yang menjadi beban warga lingkar tambang saat ini:

  1. Penyediaan air bersih yang layak bagi warga.
  2. Perbaikan kerusakan atap seng rumah warga yang diduga terdampak oleh aktivitas tambang.
  3. Transparansi pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
  4. Penanganan masalah debu di lingkungan pemukiman dengan langkah penyiraman yang intensif.
  5. Solusi atas hilangnya mata pencaharian warga, khususnya usaha kos-kosan yang sepi akibat kebijakan perusahaan menyediakan akomodasi internal bagi karyawan.

“Masalah debu yang bertebaran di kawasan lingkungan warga harus diseriusi dengan langkah penyiraman,” tegas Hasan.

Selain masalah lingkungan, warga juga mengeluhkan dampak ekonomi.

Keberadaan mes atau akomodasi yang disediakan perusahaan bagi karyawannya dinilai telah mematikan usaha kos-kosan milik penduduk lokal yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama.

Hasan memperingatkan bahwa aksi ini hanyalah permulaan. Massa mengancam akan kembali menggelar aksi unjuk rasa dengan skala yang lebih besar apabila pihak perusahaan tetap tidak mengindahkan tuntutan masyarakat tersebut.

TernatePost.id
Editor