Oleh: Adi Bandang
(Alumni Geologi ITNY Yogyakarta)

Gunung Vulkanik (gunung berapi) adalah gunung yang terbentuk akibat akumulasi material hasil erupsi magma dari dalam bumi. Atau dapat juga didefinisikan sebagai lubang atau ventilasi tempat lava, tepra (batuan kecil), abu dan gas yang keluar dari dapur magma.

Karena adanya aktivitas dari gunung berapi yang berbeda-beda maka para ahli geologi/vulkanolog mengklasifikasikan gunung berapi menjadi beberapa tipe gunung api berdasarkan bentuk, mekanisme erupsi, dan aktivitasnya yaitu:

Gunung Api Strato: Berbentuk kerucut dengan lereng curam terbentuk dari tumpukan lapisan lava yang bercampur dengan bahan-bahan piroklastik (abu, pasir, bom) yang keluar dari erupsi. Memiliki erupsi campuran terbentuk dari erupsi efusif (leleran lava) dan eksplosif (ledakan) yang terjadi berselang-seling. Gunung tipe ini dapur magma yang dalam dan sering Meletus.

Gunung Api Maar: Berbentuk cenderung rendah dengan kawah luas dan dangkal, sering terisi air membentuk danau. Dapur magma umumnya berasal dari dapur magma yang kecil sehingga tipe gunung api ini berbeda dengan Gunung Api Strato yang meletus berulang kali.

Gunung Api Perisai: Berbentuk lereng yang tidak curam, menyerupai perisai yang diletakan di tanah. Terbentuk dari erupsi efusif (lelehan) lava yang sangat cair. Tipe gunung api ini pun sangat berbeda dengan tipe Gunung Api Strato yang meletus berulang kali.

Kemudian dari ke tiga tipe gunung berapi berdasarkan dengan penjelasannya, menarik untuk di perhatikan pada tipe Gunung Api Strato. Apa yang menjadi perhatian penting dari tipe gunung api tersebut.

Bagi penulis bukan karna bentuk kerucut dan lereng yang curam sehingga menjadikannya sebagai objek wisata untuk mengabadikan foto para wisatawan.

Tapi yang harus menjadi perhatiannya adalah aktivitas dari gunung api tersebut karena aktivitas dari tipe gunung api ini dapat menghasilkan letusan yang berulangkali dan mengeluarkan bahan-bahan piroklastik seperti abu, pasir, bom dan juga memiliki erupsi campuran dari efusif (lelehan lava) serta eksplosif (ledakan) hal semacam ini yang harus kita waspadai.

Contoh dari gunung api tipe strato di Indonesia adalah Gunung Merapi (Jawa Tengah), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Rinjani (NTB), Gunung Papandayan (Jawa Barat) dan Gunung Dukono (Halmahera Utara).

Dari ke lima gunung tipe Strato di atas yang menjadi perhatian khusus untuk kita waspadai adalah Gunung Dukono yang berada di Halmahera Utara karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, apabila kita melihat dari aktivitasnya, Gunung Dukono memiliki aktivitas sangat aktif dengan erupsi kecil hingga sedang dan juga dikenal memiliki aktivitas eksplosif terus menerus.

Gunung kapan saja bisa meletus. Dengan aktivitas gunung tersebut sudah harus memiliki status waspada, sehingga aktivitas masyarakat harus sudah seharusnya radius 2-3 kilometer dari kawah aktif.

Ayo mari kita lebih memperhatikan bahaya dan risiko dengan mengutamakan mengidentifikasi dan menilai bahaya dan risiko yang akan datang. Mendaki atau berwisata itu boleh tapi keselamatan lebih utama.***