TPost – Suasana khidmat menyelimuti upacara penghormatan terakhir pemindahan jenazah mantan Wali Kota Ternate dua periode, almarhum H. Burhan Abdurahman pada Selasa (12/5/2026).
Dalam momen emosional tersebut, Sultan Tidore, Husain Sjah, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya melanjutkan warisan kebaikan (legasi) yang telah ditinggalkan oleh almarhum, terutama program kemanusiaan Barifola.
Sultan mengungkapkan keprihatinannya jika program-program bermanfaat yang dirintis almarhum terhenti.

Menurut Sultan, Barifola adalah wadah bagi siapa saja yang ingin beramal dan mencari pahala, sehingga tidak ada alasan bagi generasi berikutnya untuk tidak melanjutkan program tersebut.
“Saya ingin memecah kebuntuan ini. Saya sudah menyampaikan kepada pihak-pihak kompeten, termasuk Pak Sekda Kota Ternate, Pak Wakil Wali Kota, hingga mantan Rektor Prof. Husen, agar barang yang baik ini bisa terus dilanjutkan,” ujar Sultan Husain Sjah usai upacara penghormatan terakhir almarhum Burhan Abdurahman di Kantor Wali Kota Ternate.
Barifola dan Semangat “Calamoi“
Sultan menekankan bahwa Barifola memiliki magnet yang sangat kuat karena rasa kepemilikan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa gerakan ini tidak mendikotomi orang berdasarkan status ekonomi. Di dalamnya terdapat semangat gerakan Calamoi, di mana kontribusi sekecil Rp1.000 pun sangat berarti.
“Dengan gerakan Calamoi, masyarakat bisa melihat langsung hasilnya; bagaimana sebuah rumah berdiri lengkap dengan peralatan masak, sofa, hingga tempat tidur,” jelas Sultan.
Hal ini membuktikan bahwa Barifola bukan hanya milik kelompok tertentu, melainkan milik bersama yang harus dijaga agar tidak ada orang yang merasa lebih tinggi dari yang lain dalam berderma.
Panggilan Sejarah dan Dukungan Kesultanan
Lebih lanjut, Sultan Husain Sjah meluruskan perspektif bahwa Barifola dan Ikatan Keluarga Tidore (IKT) bukan hanya milik orang Tidore semata, melainkan milik seluruh masyarakat Maluku dan Maluku Utara.
Secara historis, wilayah Tidore mencakup hingga tanah Papua dan sebagian Maluku, sehingga gerakan ini merupakan panggilan bersama untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemaslahatan banyak orang.
Sultan juga memberikan imbauan moril kepada para tokoh yang diberikan kelebihan rezeki dan kekuasaan agar tidak menggunakan kekuasaan tersebut untuk kepentingan pribadi.
Sebaliknya, kekuasaan harus dimanfaatkan untuk membantu “orang kecil” agar mereka juga bisa berpartisipasi dalam kebaikan.
Sebagai bentuk komitmen, Sultan menegaskan bahwa Kesultanan Tidore memberikan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program ini.
Bagi Kesultanan, mendukung kebaikan dan kebenaran adalah kewajiban yang bersifat fardu ain.
“Tolong tahu bagaimana menaruh rezeki di tempat yang membawa manfaat bagi banyak orang,” tutup Sultan, menegaskan dukungannya agar nama Barifola tetap dipertahankan karena nilai sejarah dan sosialnya yang mendalam.
Perlu diketahui, berdasarkan data yang dirangkum ternatepost.id, program Barifola IKT yang jalankan H. Burhan Abdurahman semasa hidupnya bersama 40 orang mujahid Barifola hingga April 2021, sudah membangun rumah layak huni sebanyak 231 unit yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Maluku Utara.


Tinggalkan Balasan