Oleh: Nurul Izzah
(Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah)
Di tengah meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor dan semakin kuatnya tren konsumsi pangan sehat, sukun (Artocarpus altilis) justru masih sering dipandang sebagai pangan tradisional dengan nilai ekonomi yang terbatas.
Padahal, komoditas lokal ini menyimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk premium yang mampu bersaing di pasar modern, sukun dikenal sebagai pangan rakyat yang mudah ditemukan di berbagai daerah Indonesia, terutama di pedesaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi sukun Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 1,74 juta kuintal atau setara dengan 174 ribu ton.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sukun bukanlah komoditas langka, melainkan sumber daya pangan lokal yang tersedia dalam skala besar.
Namun, citra sukun sebagai makanan sederhana yang identik dengan konsumsi rumah tangga membuat potensinya sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi masih kurang mendapat perhatian.
Padahal, dengan ketersediaan yang melimpah, kemampuan beradaptasi di lingkungan tropis, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan sehat, sukun memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari pangan tradisional menjadi produk premium yang bernilai tambah tinggi.
Potensi tersebut didukung oleh kandungan gizi sukun yang cukup menjanjikan. Dalam setiap 100 gram daging buah sukun terkandung sekitar 24,5 gram karbohidrat, menjadikannya salah satu sumber energi nabati yang potensial sebagai alternatif pengganti beras maupun tepung terigu.
Selain kaya karbohidrat, sukun juga mengandung serat pangan, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.
Keunggulan ini membuat sukun tidak hanya relevan sebagai sumber pangan lokal, tetapi juga memiliki prospek sebagai bahan baku industri pangan sehat yang terus berkembang.
Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap pola makan sehat dan konsumsi pangan alami, sukun memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk premium dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan buah segar.
Selama ini, sebagian besar masyarakat masih memandang sukun sebagai makanan tradisional yang identik dengan konsumsi rumah tangga atau jajanan pasar. Persepsi tersebut menyebabkan nilai jual sukun relatif rendah dibandingkan komoditas pangan lain yang telah mengalami proses diversifikasi dan modernisasi produk.
Akibatnya, petani seringkali hanya menjual buah segar dengan harga yang naik turun dan keuntungan yang terbatas. Padahal, jika diolah lebih lanjut, sukun dapat menghasilkan berbagai produk inovatif yang memiliki daya saing tinggi di pasar.
Salah satu bentuk peningkatan nilai tambah sukun adalah pengolahannya menjadi tepung sukun. Tepung sukun memiliki karakteristik yang baik sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti roti, kue, dan biskuit.
Keunggulan tepung sukun terletak pada kandungan gluten yang rendah sehingga cocok digunakan oleh konsumen yang menghindari gluten.
Selain itu, tepung sukun dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum yang selama ini menjadi bahan utama industri tepung terigu.
Dengan pengembangan teknologi pengolahan yang tepat, tepung sukun dapat menjadi komoditas strategis dalam mendukung diversifikasi pangan nasional.
Selain tepung, sukun juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk pangan modern seperti snack sehat, granola berbahan sukun, cereal bar, hingga makanan siap saji. Produk-produk tersebut memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan buah segar.
Tren konsumsi makanan sehat yang berkembang di kalangan masyarakat perkotaan membuka peluang pasar yang luas bagi produk olahan sukun.
Dengan kemasan yang menarik, standar mutu yang baik, dan strategi pemasaran yang tepat, produk berbasis sukun dapat menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, termasuk kalangan menengah ke atas yang mencari alternatif pangan sehat dan praktis.
Tidak hanya pada sektor pangan, bagian lain dari tanaman sukun juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun sukun mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk herbal dan pangan fungsional bernilai ekonomi tinggi.
Transformasi sukun dari pangan tradisional menjadi produk premium membutuhkan dukungan inovasi teknologi. Proses pascapanen yang baik menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas bahan baku.
Penggunaan teknologi pengeringan modern, pengemasan kedap udara, serta sistem penyimpanan yang sesuai dapat memperpanjang umur simpan produk sekaligus mempertahankan kualitasnya.
Selain itu, riset mengenai formulasi produk, pengembangan cita rasa, dan peningkatan efisiensi produksi perlu terus dilakukan agar produk olahan sukun mampu memenuhi standar pasar modern.
Meskipun potensinya besar, pengembangan industri sukun di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya tingkat pemanfaatan teknologi di tingkat petani dan pelaku usaha kecil.
Banyak petani yang masih menjual hasil panennya dalam bentuk mentah tanpa melalui proses pengolahan yang dapat meningkatkan nilai jual.
Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap modal, pelatihan, serta teknologi pengolahan juga menjadi hambatan dalam pengembangan usaha berbasis sukun. Akibatnya, peluang ekonomi yang besar dari komoditas ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Tantangan lainnya adalah masih terbatasnya promosi dan branding produk sukun di pasar. Dibandingkan produk berbasis gandum atau bahan impor lainnya, produk olahan sukun masih kurang dikenal oleh konsumen.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pemasaran yang mampu mengubah citra sukun dari sekadar makanan tradisional menjadi produk modern yang sehat, berkualitas, dan bernilai premium.
Pemanfaatan media sosial, platform e-commerce, serta kolaborasi dengan pelaku industri kreatif dapat menjadi langkah efektif untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya tarik produk sukun.
Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan sektor swasta memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan industri sukun. Pemerintah dapat memberikan bantuan pelatihan, akses pembiayaan, serta dukungan kebijakan yang mendorong hilirisasi produk sukun.
Sementara itu, perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat berkontribusi melalui inovasi teknologi pengolahan, penelitian produk baru, serta pendampingan kepada pelaku usaha. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ekosistem agroindustri sukun yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Di era ekonomi kreatif dan tren pangan sehat saat ini, peluang pengembangan sukun semakin terbuka lebar. Produk-produk seperti tepung sukun premium, cookies bebas gluten, teh daun sukun, hingga pangan fungsional berbasis sukun memiliki potensi untuk menembus pasar ekspor.
Dengan dukungan inovasi, kualitas produk yang terjamin, serta strategi pemasaran yang tepat, sukun dapat bertransformasi menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sukun selama ini mungkin hanya dikenal sebagai makanan tradisional yang sederhana dan mudah ditemukan di berbagai daerah. Namun, jika dikelola secara tepat, komoditas ini memiliki potensi besar untuk menjadi produk premium yang bernilai tinggi.
Transformasi dari pangan tradisional menuju produk modern bukan sekadar meningkatkan harga jual, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan agroindustri berbasis sumber daya lokal.
Oleh karena itu, optimalisasi sukun merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian pangan sekaligus meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.***




Tinggalkan Balasan