Oleh: Asmar Hi Daud
(Akademisi Unkhair)
Ada pemandangan sederhana yang sebenarnya menjelaskan persoalan besar Kota Ternate. Sebuah saluran drainase dibuka, dan di dalamnya bukan hanya air yang ditemukan.
Botol plastik, gelas minuman, kantong plastik, sedotan, kemasan makanan, serta berbagai sampah rumah tangga memenuhi ruang yang seharusnya menjadi jalan bagi air.
Foto-foto seperti ini mungkin terlihat biasa. Kita sering menjumpainya di berbagai sudut kota. Tetapi justru karena dianggap biasa, persoalannya menjadi serius.
Sampah di dalam got bukan lagi sekadar persoalan kebersihan. Ia menunjukkan hubungan kita sebagai warga dengan kota tempat kita hidup.
Kita dapat membangun drainase yang lebih besar. Kita dapat memperbaiki saluran yang rusak. Pemerintah dapat memasang penutup got yang lebih kuat dan mengalokasikan anggaran setiap tahun untuk rehabilitasi drainase.
Namun satu persoalan mendasar tetap tidak akan selesai jika perilaku kita terhadap sampah tidak berubah.
Sebagus dan sebaik apa pun drainase Kota Ternate dibangun, jika kesadaran warga terhadap sampah tidak tumbuh, saluran itu akan kembali tersumbat dan akhirnya dibongkar lagi.
Kita kemudian masuk ke dalam siklus yang hampir tidak pernah berakhir. Saluran tersumbat. Air tidak mengalir dengan baik. Genangan muncul ketika hujan. Drainase diperiksa. Penutup dibongkar. Sampah dikeluarkan. Saluran diperbaiki. Beberapa waktu kemudian sampah kembali memenuhi saluran yang sama.
Lalu kita kembali bertanya mengapa drainase tidak berfungsi. Padahal persoalannya mungkin bukan seluruhnya pada drainase.
Kota Bukan Hanya Beton
Dalam pembangunan kota, kita sering melihat persoalan lingkungan melalui pendekatan fisik. Jika banjir terjadi, kita memperbesar drainase. Jika jalan rusak, kita memperbaiki jalan. Jika sampah menumpuk, kita mengangkut sampah.
Pendekatan semacam itu tentu diperlukan. Infrastruktur merupakan bagian penting dari pelayanan kota. Namun kota bukan sekadar jalan, trotoar, drainase dan bangunan. Kota juga dibentuk oleh perilaku manusia yang menghuninya.
Drainase sebenarnya memiliki fungsi sederhana. Ia mengalirkan air. Ketika saluran air berubah menjadi tempat membuang botol, gelas plastik, kantong makanan dan berbagai limbah rumah tangga, maka kita sedang memaksa sebuah infrastruktur bekerja untuk fungsi yang tidak pernah dirancang untuk dilakukannya.
Kita kemudian menyalahkan kapasitas saluran, sementara sebagian ruang saluran telah kita isi sendiri dengan sampah.
Di sinilah persoalan drainase berubah menjadi persoalan sosial.
Sampah Adalah Cermin Hubungan Warga Dengan Kota
Membuang sebuah botol plastik ke dalam got mungkin terlihat seperti tindakan kecil. Satu botol tidak langsung menyebabkan banjir.
Tetapi kota dihuni oleh ribuan orang.
Bayangkan apabila tindakan kecil itu dilakukan berulang kali oleh banyak orang. Satu botol bertemu dengan gelas plastik.
Gelas plastik bertemu dengan kantong makanan. Sampah kemudian tertahan oleh daun dan lumpur. Aliran air menyempit. Ketika hujan datang dengan debit yang besar, kemampuan drainase untuk membawa air berkurang.
Di sini pula kita harus memahami bahwa persoalan lingkungan perkotaan sering merupakan hasil akumulasi tindakan kecil manusia.
Karena itu kampanye kebersihan tidak cukup berhenti pada slogan “jangan membuang sampah sembarangan.”
Kesadaran lingkungan harus dibangun sebagai bagian dari kebudayaan kota.
Anak-anak perlu belajar bahwa got bukan tempat sampah. Pedagang perlu mempunyai akses terhadap tempat pembuangan sampah. Rumah tangga harus mengetahui bagaimana sampahnya dikumpulkan.
Tempat-tempat aktivitas ekonomi harus mempunyai mekanisme pengelolaan sampah. Pengangkutan sampah harus berlangsung secara teratur sehingga masyarakat tidak mempunyai alasan membuangnya ke saluran air.
Artinya tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat. Kesadaran warga harus bertemu dengan pelayanan pemerintah.
Namun pemerintah juga harus memastikan bahwa sistem pengelolaan sampah memungkinkan masyarakat untuk berperilaku benar.
Apakah tempat sampah tersedia di kawasan-kawasan yang menghasilkan banyak sampah?
Apakah pengangkutan sampah berlangsung teratur?
Apakah masyarakat mengetahui jadwal pembuangan dan pengangkutan?
Apakah saluran drainase diperiksa sebelum musim hujan?
Apakah kawasan perdagangan, pasar, permukiman padat dan ruang publik mempunyai sistem pengendalian sampah yang jelas?
Dan yang tidak kalah penting, apakah aturan mengenai pembuangan sampah benar-benar ditegakkan?
Pendidikan lingkungan tanpa pelayanan yang baik akan kehilangan kekuatannya. Sebaliknya, fasilitas yang baik tanpa kedisiplinan masyarakat juga tidak akan bertahan lama.
Karena itu Ternate membutuhkan keduanya.
Warga yang sadar dan pemerintah yang bekerja secara konsisten.
Jangan Biarkan Anggaran Kota Masuk ke Dalam Got
Setiap kali drainase yang sebenarnya masih dapat berfungsi harus dibongkar hanya karena dipenuhi sampah, sesungguhnya ada biaya publik yang harus kita keluarkan.
Ada tenaga kerja.
Ada alat. Ada waktu. Ada biaya pembersihan dan perbaikan. Ada gangguan terhadap jalan dan aktivitas masyarakat.
Artinya persoalan sampah bukan hanya persoalan estetika.
Ia juga persoalan efisiensi pembangunan.
Kita tidak boleh terus menerus menggunakan sumber daya kota untuk menyelesaikan persoalan yang sebagian sebenarnya dapat dicegah dari rumah, warung, pasar, jalan dan lingkungan tempat kita beraktivitas.
Bayangkan jika energi dan anggaran yang berulang kali digunakan untuk membersihkan saluran tersumbat dapat dialihkan untuk memperbaiki taman kota, memperkuat pengelolaan sampah, memperluas ruang publik atau meningkatkan pelayanan lingkungan lainnya.
Karena itu menjaga drainase sebenarnya juga merupakan bentuk menjaga uang publik.
Ternate Membutuhkan Gerakan Budaya Bersih
Ternate adalah kota pulau. Apa yang kita buang ke jalan dan drainase pada akhirnya tidak berhenti di sana.
Air membawa material dari daratan menuju bagian kota yang lebih rendah dan pada akhirnya menuju pesisir dan laut.
Maka persoalan botol plastik di dalam got mempunyai hubungan dengan persoalan yang lebih besar tentang laut kita.
Di kota kepulauan seperti Ternate, menjaga drainase berarti pula menjaga pesisir.
Karena itu sudah waktunya gerakan kebersihan kota tidak hanya muncul ketika kerja bakti dilakukan atau ketika saluran telah tersumbat.
Kebersihan Harus Menjadi Kebiasaan Sehari-hari
Sekolah, kampus, kelurahan, RT dan RW, komunitas, pelaku usaha, pasar, rumah ibadah dan pemerintah kota harus menjadi bagian dari pendidikan lingkungan yang sama.
Pesannya sederhana. Got adalah jalan air, bukan tempat sampah. Pada akhirnya kita boleh membangun drainase baru, memperbesar saluran, mengganti penutup got, bahkan membongkar dan membangunnya berkali-kali.
Tetapi selama sampah masih dianggap boleh dibuang ke saluran air, persoalan yang sama akan selalu kembali.
Kota yang bersih tidak lahir hanya dari beton dan proyek pembangunan.
Ia lahir dari kesadaran masyarakat, pelayanan publik yang bekerja, penegakan aturan yang konsisten, dan rasa memiliki terhadap kota.
Jadi, sampai kapan kita akan terus membongkar drainase untuk mengeluarkan sampah yang sebenarnya tidak pernah seharusnya berada di sana?

Tinggalkan Balasan