FPIK Dorong UMKM Bubula Naik Kelas melalui Sertifikasi dan Pemasaran Produk
TPost — Produk olahan perikanan bisa saja memiliki cita rasa yang baik. Namun, bagi pelaku usaha kecil, kualitas produk saja belum selalu cukup untuk membawa usaha berkembang.
Ada persoalan lain yang harus dibenahi: legalitas dan sertifikasi, administrasi usaha, kemasan, identitas produk hingga cara memasarkannya.
Persoalan itulah yang menjadi perhatian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, pada 13 Juli 2025 lalu.
Mengusung tema “Pemberdayaan UMKM Bubula melalui Sertifikasi dan Pemasaran Produk”, kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperkuat pengelolaan usaha sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Bagi UMKM Bubula, langkah untuk naik kelas tidak hanya dimulai dari menambah produksi. Fondasinya juga harus diperkuat.
Tim PkM yang dipimpin Juharni, dengan Rovina Andriani sebagai anggota, melakukan pendampingan melalui diskusi langsung bersama masyarakat dan pelaku UMKM.
Dari proses tersebut, berbagai kebutuhan dan kendala yang dihadapi pelaku usaha menjadi bagian dari pembahasan.
Sertifikasi Bukan Sekadar Dokumen
Salah satu titik perhatian dalam pendampingan adalah sertifikasi produk.
Bagi pelaku UMKM, sertifikasi kerap dipandang sebagai urusan administratif.
Padahal, keberadaannya juga berkaitan dengan kepercayaan konsumen dan kesiapan produk memasuki pasar yang lebih luas.
Karena itu, tim FPIK memberikan pemahaman mengenai persyaratan, tahapan serta dokumen yang perlu disiapkan oleh pelaku usaha.
Pendampingan dilakukan melalui diskusi dan pemeriksaan dokumen agar pelaku UMKM memiliki gambaran lebih jelas mengenai proses yang harus ditempuh.
Langkah ini menjadi penting karena semakin luas pasar yang ingin dijangkau, semakin besar pula kebutuhan pelaku usaha untuk memastikan produknya memiliki identitas dan kelengkapan yang memadai.
Kemasan ikut menentukan wajah produk
Persoalan lain yang tak luput dari perhatian adalah kemasan.
Produk lokal dengan bahan baku perikanan membutuhkan tampilan yang mampu memberikan informasi sekaligus membangun identitas di mata konsumen.
Karena itu, penguatan pemasaran tidak dipisahkan dari pembenahan kualitas kemasan dan informasi produk.
Tim PkM juga mendorong pelaku UMKM memperhatikan identitas produk, informasi yang dibutuhkan konsumen, serta pemilihan saluran pemasaran yang sesuai.
Di tengah perubahan perilaku konsumen, ruang digital menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka.
Pemanfaatan media digital diharapkan dapat membantu UMKM Bubula memperluas jangkauan pemasaran, tidak hanya mengandalkan konsumen di lingkungan sekitar.
Salah satu produk yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut adalah Abon Ikan Tuna Bubula, produk olahan perikanan lokal yang menjadi bagian dari potensi usaha masyarakat.
Dari pengetahuan menuju praktik
Suasana pendampingan berlangsung interaktif.
Pelaku UMKM tidak hanya menerima materi, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha.
Pola diskusi tersebut membuat pendampingan lebih dekat dengan persoalan nyata di lapangan.
Bagi Juharni, proses seperti itu penting karena penguatan UMKM tidak cukup berhenti pada penyampaian pengetahuan. Pemahaman yang diperoleh perlu diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Pendampingan pun dipandang perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelaku UMKM tidak berhenti pada pemahaman mengenai sertifikasi atau pemasaran, tetapi mampu menggunakannya sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Perguruan Tinggi Masuk ke Ruang Usaha Warga
Kegiatan di Jambula memperlihatkan salah satu bentuk peran perguruan tinggi yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
FPIK tidak hanya membawa pengetahuan akademik ke ruang pengabdian, tetapi mencoba menerjemahkannya menjadi pendampingan yang berkaitan langsung dengan aktivitas usaha masyarakat.
Bagi UMKM Bubula, penguatan tersebut diarahkan pada sejumlah hal: memperbaiki pengelolaan usaha, memperjelas identitas produk, meningkatkan kesiapan sertifikasi, memperkuat kemasan, serta membuka peluang pemasaran melalui kanal digital.
Semua proses itu pada akhirnya bermuara pada satu kebutuhan yang sama: membuat produk lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang.
Di tengah keterbatasan yang dihadapi usaha kecil, langkah naik kelas memang tidak selalu berlangsung cepat.
Namun, dari pembenahan dokumen, kemasan hingga cara memasarkan produk, proses tersebut dapat menjadi pijakan awal bagi UMKM Bubula untuk memperluas ruang usahanya.
Dan di Jambula, pijakan itu dimulai dari pendampingan yang membawa persoalan UMKM langsung ke meja diskusi.

Tinggalkan Balasan