TPost – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Atas Nama Rakyat Maluku Utara (ATA) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Jumat (1/5/2026).

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan tegas terhadap proyek geothermal yang dinilai mengancam kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat di wilayah tersebut.

Koordinator Lapangan, Dobertus Doongoro, dalam orasinya menekankan bahwa proyek ini berpotensi besar merusak ekosistem, serta merampas ruang hidup masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada hasil tanah dan sumber air.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak anti terhadap pembangunan, namun menolak keras jika eksploitasi dilakukan di atas tanah leluhur mereka.

“Kami menolak proyek yang mengorbankan lingkungan dan masa depan generasi kami,” ujar Dobertus di hadapan massa aksi yang membawa berbagai spanduk tuntutan.

Dalam aksi tersebut, Aliansi ATA menyoroti proses perizinan proyek yang dinilai tidak transparan dan minim melibatkan partisipasi masyarakat.

Beberapa poin utama yang menjadi tuntutan mereka antara lain:

  • Mencabut izin proyek PT Ormat Technology Geothermal di Maluku Utara.
  • Melakukan kajian ulang dampak lingkungan secara independen dan transparan.
  • Menghormati serta melindungi hak masyarakat adat atas tanah wilayah kelola mereka.
  • Mendesak pemerintah dan DPR RI untuk lebih memprioritaskan keselamatan rakyat dibandingkan kepentingan investasi semata.

Meskipun aksi unjuk rasa berlangsung dengan tertib di bawah pengawalan aparat keamanan, massa mengancam akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar jika tuntutan mereka diabaikan oleh pemerintah.

“Ini bukan aksi terakhir. Jika tuntutan kami diabaikan, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” pungkas Dobertus menutup orasi.

Hingga berita ini diturunkan, massa mendesak DPR-RI untuk segera mengevaluasi seluruh izin dan dampak lingkungan dari proyek geothermal tersebut.

TernatePost.id
Editor