Asmar Hi. Duad
(Akademisi Unkhair)
Expo FPIK Unkhair 2025 diselenggarakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Bastiong, Ternate, selama 12-14 Desember 2025, menghadirkan pesan yang jelas bahwa kampus tidak boleh hanya hidup di ruang kelas dan jurnal, tetapi harus hadir di ruang publik untuk menerjemahkan ilmu menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dilihat, dan dipakai masyarakat.
Dengan tema “Inovasi Biru untuk Pembangunan Pesisir Berkelanjutan melalui Pendidikan, Riset, dan Eduminawisata,” expo ini memperlihatkan wajah FPIK Unkhair sebagai simpul pengetahuan bahari yang relevan dengan kebutuhan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan yang masa depannya sangat ditentukan oleh laut, namun masih menghadapi tantangan ketimpangan layanan, inovasi, dan literasi sains.
Yang membuat expo ini penting bukan karena pamerannya, tetapi karena ia membangun jembatan dari hasil riset ke praktik lapangan, dari ide akademik ke percakapan warga, dari laboratorium ke pelabuhan.
Di ruang seperti ini, pendidikan dan riset berhenti menjadi istilah abstrak atau yang sulit dijangkau oleh publik. Keduanya menjelma menjadi teknologi tepat guna, karya kreatif mahasiswa, gagasan kewirausahaan bahari, dan inspirasi bagi generasi muda.
Dari sini, siswa SMA/SMK dan calon mahasiswa dapat melihat bahwa perikanan dan kelautan bukan hanya soal “ikan dan nelayan”, tetapi arena masa depan bagi budidaya modern, pemantauan lingkungan pesisir, pengolahan hasil, konservasi, hingga tata kelola pesisir yang adil dan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Dalam konteks promosi institusi, FPIK Unkhair tampil bukan sekadar sebagai fakultas penghasil sarjana, tetapi sebagai simpul inovasi daerah yang menyatukan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Karena itu, expo yang baik seharusnya tidak berhenti sebagai agenda instan. Akan lebih kuat dampaknya bila kegiatan seperti ini digelar setiap tahun dan tidak hanya terpusat di Ternate, tetapi bergilir ke berbagai kabupaten/kota di Maluku Utara.
Daerah kepulauan ini bukan satu panggung besar, melainkan jejaring pulau dengan persoalan dan peluang yang beragam. Expo yang berputar akan membuat riset lebih “mendarat”, karena bertemu langsung dengan kebutuhan setempat, memperluas jejaring kolaborasi, serta membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk melihat secara konkret peran kampus dalam pembangunan pesisir berkelanjutan.
Dengan model seperti itu, Expo FPIK Unkhair dapat berkembang dari sekadar pameran menjadi tradisi ilmu Maluku Utara, yakni ruang belajar bersama yang mempertemukan pengetahuan, kebijakan, dan praktik lapangan.
Promosi fakultas pun menjadi lebih bermakna, tidak hanya untuk mengundang mahasiswa baru, tetapi juga untuk menegaskan bahwa FPIK Unkhair merupakan rumah besar pengetahuan bahari Maluku Utara serta jembatan antara laut sebagai sumber penghidupan hari ini dan laut sebagai fondasi masa depan yang berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan