Oleh : Betty Kadir Lahati, SP., MSi
(Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Unkhair)
Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia saat ini masih sangat tinggi. Hampir di setiap musim tanam, petani mengandalkan pupuk kimia untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Sayangnya, penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang menimbulkan berbagai masalah, mulai dari menurunnya kualitas tanah, meningkatnya biaya produksi, hingga dampak negatif terhadap lingkungan. Kondisi ini menuntut adanya alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan, terjangkau, dan berkelanjutan.
Salah satu solusi yang kini dikembangkan adalah pupuk biologis berbasis mikroba fungsional. Mikroba seperti Trichoderma sp. terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki sistem perakaran tanaman, dan menekan serangan penyakit tular tanah. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya produk inovasi “Trichoshi”, pupuk biologis hasil karya tim dosen dan mahasiswa Universitas Khairun Ternate.
Produk Trichoshi diformulasikan dalam dua bentuk, yaitu cair dan granul, sehingga mudah diaplikasikan oleh petani.
Selain meningkatkan pertumbuhan tanaman hortikultura seperti cabai dan tomat, uji lapangan menunjukkan penggunaan Trichoshi mampu mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 25 persen. Artinya, petani bisa menghemat biaya produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Produk ini telah diperkenalkan melalui berbagai pameran, media sosial, hingga uji coba pada kelompok tani di Kota Ternate. Respon masyarakat cukup positif, terutama karena mereka merasakan langsung manfaatnya: tanaman lebih sehat, biaya pupuk berkurang, dan kesadaran akan pentingnya pertanian ramah lingkungan semakin meningkat.
Lebih dari sekadar produk pupuk, Trichoshi menjadi model kewirausahaan berbasis kampus. Mahasiswa yang terlibat dalam produksi hingga pemasaran memperoleh pengalaman nyata tentang bagaimana riset bisa dihilirkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ke depan, Trichoshi memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersial. Dengan dukungan legalitas, sertifikasi, dan jaringan pemasaran yang lebih luas, produk ini bisa menjadi salah satu pupuk hayati unggulan di Maluku Utara.
Bahkan, bukan tidak mungkin Trichoshi dapat menembus pasar nasional sebagai kontribusi nyata Universitas Khairun dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
Melalui inovasi seperti Trichoshi, kita semakin yakin bahwa pertanian ramah lingkungan bukan hanya sebuah wacana, tetapi nyata dapat diwujudkan dari kampus untuk masyarakat.***


Tinggalkan Balasan