TPost – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Maluku Utara mencatat jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Maluku Utara mencapai 194.996 unit.
Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen terkonsentrasi di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Selatan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan UMKM memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan daya saing daerah.
Hal itu disampaikan Handi dalam kegiatan Media Brief Festival Salawaku 2026 yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, potensi UMKM di Maluku Utara tidak hanya terpusat di Ternate dan Halmahera Selatan. Sejumlah kabupaten/kota lainnya juga memiliki potensi usaha unggulan yang perlu dikembangkan melalui pendampingan dan kolaborasi berbagai pihak.
“Kami berharap kabupaten/kota yang sudah memiliki embrio dan potensi UMKM unggulan bisa terus dikembangkan. Salah satunya di Kabupaten Pulau Taliabu, yang juga telah menyampaikan permintaan dukungan pengembangan UMKM,” ujar Handi.
Ia mengungkapkan, BI Maluku Utara telah berdiskusi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Taliabu untuk menjajaki pengembangan UMKM di wilayah tersebut.
Rencananya, sinergi program pengembangan UMKM di Taliabu akan didorong pada tahun mendatang.
Handi juga menyoroti perkembangan pembiayaan UMKM. Berdasarkan data September 2026, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 5,56 persen, melambat dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 9,22 persen.
Bahkan, pertumbuhan kredit UMKM pada September 2026 mengalami kontraksi. Kondisi ini menjadi perhatian bersama karena pembiayaan merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong ekspansi dan pengembangan usaha.
“Kami bersama-sama perlu mendorong peningkatan penyaluran kredit UMKM di Maluku Utara agar dapat mendukung pengembangan sektor tersebut,” katanya.
Festival Salawaku 2026 Perkuat Ekosistem UMKM
Untuk mempercepat pengembangan UMKM, BI Maluku Utara menghadirkan Festival Salawaku 2026 sebagai salah satu program unggulan penguatan ekonomi kreatif daerah.
Festival yang berlangsung pada 6-8 November 2026 di Benteng Fort Oranje, Ternate, ini mengusung semangat melestarikan budaya, mengembangkan karya, serta mendorong ekonomi kreatif yang inklusif.
Handi menjelaskan, Festival Salawaku tahun ini tidak sekadar menjadi panggung promosi dan pameran produk UMKM. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang penguatan ekosistem usaha melalui perluasan kemitraan, peningkatan kapasitas, literasi, akses pasar, hingga pembiayaan.
“Festival Salawaku bukan hanya panggung promosi atau kurasi produk unggulan agar siap bersaing di pasar nasional maupun internasional, tetapi juga menjadi wadah memperkuat ekosistem UMKM,” jelasnya.
Menurut Handi, Maluku Utara memiliki kekayaan sejarah, budaya, wastra atau kain tradisional, seni, kuliner, serta potensi pariwisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru melalui kreativitas dan inovasi masyarakat.
Karena itu, pelaksanaan Festival Salawaku 2026 lebih menitikberatkan pada penguatan identitas budaya sekaligus mendorong produk lokal agar memiliki nilai tambah dan daya saing.
Beragam Pelatihan dan Pendampingan
Sebelum pelaksanaan festival utama, BI Maluku Utara telah menggelar sejumlah kegiatan pra-festival atau Road to Salawaku.
Kegiatan tersebut meliputi pelatihan hilirisasi pangan olahan perikanan pada 15-16 Oktober, pelatihan kewirausahaan bidang konveksi di Pondok Pesantren Putri Darussalam, Halmahera Selatan, pada 12-26 Oktober, serta pelatihan pengolahan sampah menjadi budidaya maggot.
BI juga melaksanakan penguatan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis) pada 21-22 Oktober. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kelembagaan, kemampuan menyusun rencana bisnis, serta pengembangan potensi wisata daerah.
Selain itu, terdapat program penguatan ekonomi pesantren, bisnis matching pembiayaan UMKM, pelatihan wastra bagi penenun pemula, serta pendampingan pengembangan usaha.
Handi mengakui, pengembangan wastra Maluku Utara masih menghadapi tantangan, terutama rendahnya minat generasi muda untuk menjadi penenun, produktivitas yang terbatas, serta minimnya inovasi.
Karena itu, BI terus mendorong regenerasi penenun dan pengembangan inovasi produk agar wastra daerah memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Hadirkan Pameran, Kompetisi hingga Hiburan Rakyat
Pada pelaksanaan 6-8 November mendatang, Festival Salawaku akan menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari pameran produk unggulan UMKM, pameran ekonomi kreatif, layanan mitra, talk show edukasi, pelatihan, hingga kompetisi dan pertunjukan seni.
Sejumlah perlombaan yang disiapkan antara lain Salawaku Comic Fest, Content Creation Challenge, Outfit of the Day, Salawaku Tourism Innovation Challenge, kompetisi fotografi, lomba kreasi tari kontemporer, serta Salawaku Barista Competition.
Ada pula kompetisi fotografi bawah laut dan fotografi budaya Maluku Utara.
Menurut Handi, kompetisi tersebut menjadi salah satu upaya mendorong lahirnya lebih banyak konten visual berkualitas untuk memperkenalkan potensi pariwisata Maluku Utara.
Festival ini juga akan menghadirkan edukasi mengenai kebanksentralan, penggunaan rupiah, sistem pembayaran digital, serta perlindungan konsumen.
Untuk memeriahkan kegiatan, panitia menyiapkan aktivitas zumba, donor darah, permainan rakyat, hiburan musik lokal, serta penampilan Adrian Khalif.
Selain itu, satu jebolan MasterChef Indonesia Season 13, juga akan dihadirkan untuk memberikan inspirasi pengolahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah.
UMKM Maluku Utara Mulai Tembus Pasar Internasional
Di sisi lain, Handi menyebut sejumlah UMKM binaan BI Maluku Utara telah menunjukkan capaian positif, baik dari sisi penjualan, inovasi produk, maupun perluasan pasar internasional.
Salah satu capaian ditunjukkan UMKM wastra Putadino dan Rapidino yang mencatat peningkatan penjualan sebesar 131 persen dalam ajang Karya Kreatif Indonesia di Jakarta.
Nilai transaksi yang sebelumnya sekitar Rp100 juta meningkat menjadi sekitar Rp300 juta selama tiga hari pelaksanaan kegiatan.
Inovasi pewarnaan produk Putadino juga berhasil masuk dalam 50 besar program inovasi Citra Nusa tingkat nasional.
Sementara UMKM De Jabru berhasil menembus 60 besar kompetisi Cangkir Barista tingkat nasional.
Selain itu, sebanyak 33 UMKM binaan BI turut berpartisipasi dalam program Malut Go Export. Beberapa di antaranya telah berhasil merealisasikan ekspor, yakni Alwenis Kitchen dengan pembeli dari Singapura dan Niasora dari Malaysia.
UMKM Ifamoy dan Putadino Kayangan juga berhasil membukukan transaksi dengan pembeli dari Australia. Bahkan, terdapat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan pembeli dari Jerman dan Belanda dalam sejumlah kegiatan perdagangan internasional.
Capaian lainnya datang dari UMKM Kagounga yang berhasil masuk 10 besar kompetisi International Halal Chef Competition di Jakarta.
Handi berharap berbagai prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya untuk terus meningkatkan kualitas produk, memperkuat kelembagaan, memperluas akses pembiayaan, serta berani memasuki pasar yang lebih luas.
“Harapannya, capaian UMKM Maluku Utara ini bisa digaungkan sehingga menjadi inspirasi dan motivasi bagi UMKM lainnya untuk terus berkembang dan menjadi UMKM berkelas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan