Sugianto Mangoda

(Pengurus PW Pemuda Muhammadiyah Maluku Utara)

Tanggal 28 Maret 2025, saya menyempatkan waktu pulang kampung, di Morotai, untuk berlebaran Idul Fitri.

Dari Ternate menyeberang ke Sofifi menggunakan transportasi laut–speedboat.

Selanjutnya dari Sofifi menuju Tobelo menggunakan mobil angkut. Saya men-charter sebuah mobil jenis Innova, sekaligus mengangkut bibit durian dan alpukat yang saya beli di Sofifi.

Pukul 14.00 WIT, tiba di Tobelo. Eits, saya tidak sendiri. Saya memboyong anak dan istri saya.

Di sana, kami menunggu beberapa saat, menunggu penumpang penuh. Lalu berangkat menuju Morotai.

Sekitar pukul 16.00 WIT, tiba di pelabuhan speedboat Daruba. Kami sudah dijemput kakak sepupu saya, Kakak Dun.

Setelah barang bawaan saya dinaikkan ke mobil, kakak saya bertanya, “Langsung ke kampung?” Saya bilang, “Kita jalan-jalan dalam kota dulu, kakak, sudah lama baru datang di Morotai lagi ini.”

Oh iya,” menjawabnya. Perlahan, dia membelokkan steer mobil dari perempatan tugu Merdeka (sekarang dikenal Om Paris) menuju arah Taman Daruba, Gotalamo, hingga kawasan Religi dan Central Business District (CBD), kemudian kantor bupati dan selanjutnya menuju kampung halaman, Sambiki Tua.

Tiba di kawasan religi dan CBD, saya terkejut melihat lokasinya cukup luas setelah mobil berputar-putar untuk melihat lebih dekat kawasan sekitar.

Tampak masjid Raya, Islamic Center, dan gedung Oikumene, terlihat bagus, indah sekali. Saatnya tiba di pasar, semuanya sudah terlihat kotor, jorok, berantakan pula.

Oh… ada yang terlupakan. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan sampai kawasan religi juga terlihat jalan berlubang, taman kota Daruba tidak terurus, air mancurnya tidak lagi berfungsi, pokoknya terbengkalai. Padahal dahulu taman itu menjadi tontonan warga setiap tiba di ibu kota Daruba. Apalagi di malam hari. Air mancurnya melompat-lompat, memancarkan warna-warni lampu hias, sangat indah dan bersih lingkungan sekitarnya.

Setelah berkeliling dalam kota, kami langsung menuju kampung halaman tercinta, Sambiki Tua.

Sepanjang perjalanan, pikiran saya terus membandingkan dahulu, 7 tahun lalu dengan kondisi sekarang. Ingatan saya mengatakan, kala itu Morotai sangat bersih dan indah (Daloha). Mulai dari pusat kota sampai ke desa-desa. Suasana pedesaan saat itu benar-benar terlihat layaknya desa yang digambarkan dalam buku-buku SD pelajaran bahasa Indonesia. Desa yang bersih dan indah.

Kondisi ibu kota Daruba yang terlihat kotor, jalan berlubang, dan berantakan juga terlihat di ibu kota kecamatan Morotai Timur, Sangowo. Malahan terlihat kumuh. Bukannya maju, tetapi mundur. Itu problem empiris, kasat mata. Belum problem yang tak kasat mata.

Kita berharap, bupati yang baru bisa menata kembali Morotai seperti dahulu di masanya, bupati Rusli Sibua, periode pertama bupati definitif. Saya kira tidak serumit dulu jika bupati mau membangun kembali karena ia sudah membuktikannya dan rakyat Morotai merasakannya dari buah karya dan membuat masyarakat Morotai tersenyum bahagia jika dibandingkan 7 tahun pemerintahan setelahnya.

Bagi saya, barangkali yang perlu dilakukan bupati untuk periode kedua kalinya ini cukup melakukan penataan kota hingga desa agar terlihat bersinar seperti dahulu, dan kedua adalah pemulihan ekonomi rakyat. Menurut saya dua hal ini yang menjadi prioritas untuk dikejar dalam dua tahun ke depan.***