TPost – Kawasan Pulo Tareba, Danau Tolire, Kota Ternate, Maluku Utara, kembali menjadi ruang belajar konservasi berbasis pengalaman langsung di alam.
Dalam pengamatan satwa nokturnal yang berlangsung Jumat malam (6/11/2026), dua mahasiswi Universitas Khairun (Unkhair) berhasil menjumpai 14 individu Kuskus Mata-biru (Phalanger matabiru) di sejumlah titik pengamatan.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIT tersebut didampingi Wawan Suprianto Nadra, pemerhati satwa endemik Kuskus Mata-biru, bersama dua pemuda Komunitas Pulo Tareba, Asrul dan Farhan.
Selain kuskus mata-biru, tim juga mencatat perjumpaan dengan dua individu burung kipasan kebun (Rhipidura leucophrys) dan dua individu burung cabak maling (Caprimulgus macrurus).
Temuan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal secara langsung keanekaragaman satwa liar yang menghuni kawasan sekitar Danau Tolire.
Antusiasme kedua mahasiswi terlihat sepanjang kegiatan pengamatan. Fina mengaku sangat senang dapat menjumpai 14 individu kuskus mata-biru dalam satu malam.
“Senang sekali malam ini bisa bertemu langsung dengan 14 kuskus mata-biru. Ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Mudah-mudahan ke depannya kuskus mata-biru tidak lagi diburu dan keberadaannya tetap terjaga,” ungkap Fina.
Pengalaman serupa dirasakan Esty. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan pengamatan di kawasan hutan dan mendapatkan pengalaman berbeda dari aktivitas yang selama ini dijalaninya.
“Selama ini saya belum pernah masuk hutan. Malam ini menjadi pengalaman yang luar biasa karena bisa melihat langsung satwa endemik kuskus mata-biru, burung cabak maling, dan kipasan kebun. Kami juga mendapatkan penjelasan yang sangat baik mengenai satwa-satwa yang dijumpai selama pengamatan,” ujar Esty.
Bagi Wawan Suprianto Nadra, kegiatan semacam ini merupakan salah satu pendekatan untuk memperkenalkan konservasi kepada generasi muda melalui pengalaman langsung di habitat alami satwa.
“Seperti inilah konservasi berjalan. Tujuan kami bukan sekadar mengajak generasi muda melihat satwa, tetapi juga memberikan pemahaman tentang jenis, perilaku, dan pentingnya keberadaan satwa liar di habitat alaminya. Ketika mereka melihat langsung dan memahami kehidupan satwa tersebut, diharapkan tumbuh kepedulian untuk ikut menjaga kelestariannya,” jelas Wawan.
Ia menjelaskan, kegiatan tidak berhenti setelah pengamatan lapangan selesai. Para peserta kemudian mengikuti diskusi sederhana mengenai satwa yang dijumpai.
Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar pengetahuan sekaligus memperdalam pemahaman tentang keanekaragaman hayati dan berbagai tantangan dalam upaya pelestariannya.
Sementara itu, Asrul, pemuda Komunitas Pulo Tareba, menyambut baik kunjungan masyarakat, terutama generasi muda yang ingin mengenal satwa liar secara langsung.
“Kami senang jika ada yang datang ke Pulo Tareba bukan hanya untuk berkunjung, tetapi juga ingin mengenal satwa yang hidup di sekitar Danau Tolire. Melalui kegiatan seperti ini, kami bisa berbagi pengetahuan tentang satwa liar dan konservasi kepada para pengunjung. Ini bukan kegiatan terakhir. Kami akan terus melakukan berbagai hal positif untuk mendukung konservasi, khususnya di Pulo Tareba,” ungkap Asrul.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi konservasi tidak harus berlangsung di ruang kelas.
Pengalaman mengamati satwa secara langsung dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Keterlibatan mahasiswa dan pemuda lokal juga menjadi modal penting dalam membangun kesadaran bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati.
Di Pulo Tareba, perjumpaan dengan satwa liar bukan sekadar pengalaman melihat kehidupan alam pada malam hari.
Lebih dari itu, kawasan ini mulai memperlihatkan perannya sebagai ruang belajar konservasi yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman lapangan, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan