Sebuah Prestasi Gemilang yang Menggelitik Realita Nelayan
Oleh: Asmar Hi. Daud
(Akademisi Unkhair Ternate)
Pada tanggal 6 Oktober 2025, Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama warga Kelurahan Dufa-Dufa, Ternate Utara, berhasil memecahkan rekor MURI dengan pengasapan lebih dari 6 ton ikan cakalang dalam Festival Nyao Fufu yang spektakuler.
Kegiatan ini bukan hanya sebuah perayaan tradisi yang sarat nilai budaya dan kebersamaan, tetapi juga didukung sebagai potensi besar pengembangan produk pariwisata nasional yang bahkan berpeluang masuk ke Kalender Kharisma Pariwisata Nasional. Keberhasilan ini melibatkan sekitar 3.000 warga dan menjadi simbol ketahanan serta identitas masyarakat pesisir.
Di tengah kemeriahan dan pencapaian rekor pengasapan ikan cakalang, kondisi sosial ekonomi nelayan Dufa-Dufa khususnya, dan nelayan Maluku Utara pada umumnya masih jauh dari kata sejahtera.
Bahkan janji manis Gubernur Shearly yang mengusung program pembangunan kampung nelayan di Dufa-Dufa dengan anggaran 22 miliar rupiah dan bantuan armada tangkap meleset dari harapan. Bukannya menjadi titik awal revolusi ekonomi dan perikanan yang menjanjikan, program tersebut tidak terealisasi dan tenggelam dalam janji politik manis.
Nelayan di Dufa-Dufa terbebani oleh pungutan pasca produksi yang memberatkan, tidak mendapatkan subsidi BBM yang adil, hingga rantai pasok yang timpang. Nelayan menjual ikan dengan harga murah, namun masyarakat membeli dengan harga tinggi, bahkan lebih mahal dibandingkan di kota-kota besar seperti di Jawa, Makkasar dan Manado.
Model pasar yang didominasi tengkulak dan pedagang besar itu mengakibatkan nelayan di titik impas modal, sementara pedagang untung, dan konsumen justru mengeluhkan harga ikan yang tinggi. Dengan kata lain, potensi besar laut yang menjadi lumbung ikan tidak serta-merta menjadi sumber kesejahteraan bagi para penghasil utamanya.
Kesenjangan antara pencapaian budaya dan ekonomi ini harus menjadi pengingat bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Pengasapan ikan dalam skala besar sebagai simbol kebersamaan dan potensi ekonomi harus dibarengi dengan kebijakan yang nyata membina keberlanjutan sektor perikanan dan pemberdayaan nelayan. Anggaran dan bantuan armada tangkap jangan hanya menjadi slogan tanpa aksi nyata yang menyentuh akar masalah.
Pembangunan kampung nelayan harus dilengkapi dengan perbaikan distribusi subsidi, penguatan rantai pasok yang adil, dan modernisasi armada serta fasilitas penanganan hasil tangkapan. Keterlibatan aktif nelayan dalam pengambilan keputusan dan pemasaran produk harus menjadi prioritas agar nilai tambah produk ikan tidak hanya dinikmati oleh segilintir orang dan atau pedagang penguasa pasar.
Festival Nyao Fufu dengan rekor pengasapan ikan cakalang yang gemilang adalah prestasi budaya dan pariwisata yang patut diapresiasi. Namun, keberlanjutan ekonomi nelayan Dufa-Dufa dan nelayan Maluku Utara pada umumnya, terutama mereka yang hidup di pelosok pesisir dan pulau pulau kecil membutuhkan langkah berani dan konsisten dari pemerintah tidak sekedar janji, dan mengatasi ketimpangan pasar yang selama ini merugikan nelayan.
Tanpa itu, rekor MURI atau apapun namanya, hanya akan menjadi catatan sesaat yang tidak berdampak, apalagi mengubah nasib ekonomi masyarakat pesisir yang sebenarnya.


Tinggalkan Balasan