TPost — Pedagang ikan Pasar Bahari Berkesan Dufa Dufa, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara, terpaksa harus patungan untuk membangun sarana pendukung di pasar tersebut.

Sarana pendukung berupa meja jualan permanen dari beton dibangun dengan dana patungan, lantaran pedagang merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kota Ternate.

“Dari tehel (keramik), semen, pasir, besi, tela (batako) dan ongkos tukang pun kami bayar. Anggarannya kami dari pedagang patungan,” ungkap Migo salah satu pedagang ikan, Minggu (26/10/2025).

Padahal menurutnya, selama ini pedagang ikan setiap hari membayar retribusi kepada pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate.

Namun, begitu keluhan disampaikan, Disperindag Kota Ternate malah beralasan tidak mengalokasikan anggaran untuk renovasi.

“Mereka (Disperindag) bilang anggaran tidak ada. Lah terus leo (retribusi) yang ditagih perhari Rp 3.000 itu bertahun-tahun ini di mana,” ucap Migo dengan nada kesal.

Pedagang ikan Pasar Bahari Berkesan Dufa Dufa membangun sarana pendukung berupa meja jualan dari hasil patungan.(Foto: TPost/Zil)

Hal senada juga diungkap pedagang ikan lainnya yang bernama Ida.

Ida merasa bahwa dirinya bersama pedagang lainnya di pasar tersebut sama sekali kurang mendapat perhatian pemerintah, meski mereka sudah menunaikan kewajiban membayar retribusi.

“Selama ini, dorang (mereka) tara (tidak) pernah mo (mau) bikin tempat jualan, tapi leo dorang batagi (penagihan) setiap hari,” keluh Ida.

Menurutnya, patungan pedagang ikan membangun sarana dan prasarana pendukung pasar bukan baru kali ini. Sebab itu, mereka menuntut agar pemerintah kota lebih peka dengan kebutuhan pedagang.

“Kemarin juga di tempat sebelah itu kami juga patungan buat sendiri, karena tidak ada perhatian dari pemerintah. Jadi kalau boleh pemerintah daerah harus lihat problem kita karena demi kenyamanan kita bersama,” harapnya.

TernatePost.id
Editor