TPost — Ketua PKC PMII Maluku Utara, Muhammad Fajar Djulhijan, mengecam aktivitas PT Jaya Abadi Semesta (JAS) di Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, yang memicu kerusakan lingkungan dan gagal panen rumput laut di Desa Nanas dan Desa Fayaul.

Keberadaan dermaga (jetty) milik perusahaan tersebut dinilai dibangun tanpa mempertimbangkan aktivitas ekonomi masyarakat petani rumput laut di kedua desa tersebut.

Berdasarkan keterangan Kepala Desa Nanas, kualitas dan pertumbuhan rumput laut menurun drastis sejak adanya jetty akibat tumpahan minyak dari kapal, dan sedimentasi yang menyebabkan air laut menjadi keruh.

Kondisi ini mengakibatkan tanaman rumput laut mengalami patahan hingga gagal panen. Padahal sebelumnya petani mampu menghasilkan Rp 5 hingga 7 juta atau lebih dalam sekali panen.

“Sebelum ada jetty, bibit yang petani tanam cepat pertumbuhannya, ketika ada jetty, rumput laut itu mengalami patahan berangsur akhirnya gagal panen,” jelas Fajar.

Selain kerugian ekonomi warga, PMII Maluku Utara menyoroti adanya potensi kerugian uang negara. Hal ini dikarenakan program budidaya rumput laut tersebut menggunakan anggaran desa sebesar Rp 400 juta, di luar bantuan dari Pemprov Maluku Utara dan Pemda Halmahera Timur.

Fajar juga mengkritik nilai sumbangan dari perusahaan subkontraktor yang dianggap sangat kecil, dan tidak sebanding dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

“Artinya, perusahaan ini juga secara tidak langsung tengah merugikan uang negara,” cetusnya.

Atas situasi tersebut, PMII Maluku Utara memberikan peringatan keras kepada Gubernur Sherly dan Bupati Ubaid agar segera memanggil dan mengevaluasi kinerja PT JAS.

Mereka mendesak pemerintah untuk tidak tinggal diam atas dampak lingkungan yang disebut sebagai kejahatan ekosida ini serta memastikan kompensasi ganti rugi yang layak bagi seluruh warga terdampak.

“Gubernur Sherly dan Bupati Ubaid tidak boleh diam. Ini kejahatan ekosida yang berefek ke masyarakat,” cetusnya.

TernatePost.id
Editor